Search This Blog

Saturday, October 29, 2011

Tak kenal menyerah sebelum saatnya

Pengusaha itu jatuh sekali, bangun dua kali. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh sepuluh kali, bangun sebelas kali, dan seterusnya. Sama seperti laba-laba membangun sarangnya. Ia terus menerus merajut sarang. Meski kena angin dan jatuh, ia kembali lagi meneruskan sarangnya agar jadi utuh. Jatuh lagi pun, ia kembali lagi. Seperti tak kenal lelah. Tak kenal kecewa. Tak kenal putusasa. Tak kenal mengeluh.
Mereka punya determinasi.
Tak kenal menyerah sebelum saatnya.
be well,
Dwika


**sd-10807.dedibox.fr
Ya, tiga syarat saja untuk jadi pengusaha. Itu yang saya sampaikan di acara talkshowWanita dan Wirausaha” yang digelar Kutukutubuku.com dalam rangka hari Kartini, Sabtu lalu di ITC Permata Hijau, Jakarta. Di hadapan para pelanggan toko buku online yang kebanyakan ibu-ibu muda itu saya memberikan contoh wanita yang sukses meniti gelombang kewirausahaan dari nol. Termasuk dalam contoh itu adalah Susi Pudjiastuti. Tiga dara pendiri Kutukutubuku.com — Ollie, Angel, dan Christine — juga termasuk yang saya jadikan contoh, meski mereka baru memulai bisnis ini setahun lalu.

Apa ketiga syarat itu?
Pertama: Berani meninggalkan zona nyaman.
Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan — apa boleh buat — ia terjabak di sana selamanya.
Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.
Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru. Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha. Susi Pujiastuti, sang ekportir hasil laut terbesar di negeri ini misalnya, memodali sendiri bisnisnya dengan menjual anting-anting dan gelangnya seharga Rp 750 ribu. Saya sendiri sempat “menggadaikan” rumah dan menjual mobil ketika usaha saya sempat goncang di tengah jalan.
Sementara Ollie dan Angel berani meninggalkan zona aman sebagai karyawan dengan gaji tetap demi membesarkan toko buku onlinenya (Kutukutubuku.com), butik onlinenya (Heartyboutique.com) serta solusi toko onlinenya (TukuSolution.com). Contoh lain, Iim Fahima dan Adhitia Sofyan berani meninggalkan gaji mewahnya sebagai karyawan biro iklan tradisional dan masa depannya yang cerah di sana, untuk membangun konsultan komunikasi pemasaran online Virus Communications.
Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman “bisnis sudah jadi”. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru.
Kedua, Fokus.
Memang ada saja pengusaha yang sukses meski ia tidak fokus di bisnis terntentu. Meski demikian, setahu saya, lebih banyak pengusaha yang sukses karena fokus ketimbang yang kurang fokus. Bill Gates tutup mata bertahun-tahun sepanjang hidupnya hanya fokus di bisnis peranti lunak, dan dia menjadi orang terkaya di dunia13 tahun berturut-turut. Susi Pudjiastuti yang setiap hari bergelut dengan ikan, kini jadi eksportir hasil laut terbesar. Sebaliknya, kebanyakan konglomerat yang masuk ke sana ke mari, bahkan membuat bank ketika boom bisnis finasial 1980-an, akhirnya terpuruk dan jadi pasien BPPN.
Fokus itu bertahun-tahun. Bukan cuma beberapa tahun. Apalagi beberapa bulan. Maka fokus di sini adalah fokus yang butuh kesadaran dan penuh passion.
Ketiga, Determinasi.
Pengusaha itu jatuh sekali, bangun dua kali. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh sepuluh kali, bangun sebelas kali, dan seterusnya. Sama seperti laba-laba membangun sarangnya. Ia terus menerus merajut sarang. Meski kena angin dan jatuh, ia kembali lagi meneruskan sarangnya agar jadi utuh. Jatuh lagi pun, ia kembali lagi. Seperti tak kenal lelah. Tak kenal kecewa. Tak kenal putusasa. Tak kenal mengeluh.
Mereka punya determinasi.
Tak kenal menyerah sebelum saatnya.
Peserta talkshow kutukutubuku.com
foto: peserta talkshow yang ingin jadi wanita pengusaha
Anda mau menambahkan syarat lain menjadi pengusaha?
Author: "Nukman Luthfie"

Pintar dan lulus sarjana

“Contohlah Bill Gates, tapi jangan di sisi akademis dia.” Mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang “bodoh” yang tidak lulus kuliah.
be well,
Dwika


**sd-10807.dedibox.fr
Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di dunia tahun ini. Tidak heran jika ia menjadi idola banyak orang, termasuk saya.
Fokusnya di dunia peranti lunak memang tak tergoyahkan. Sepanjang hidupnya, fokus bisnisnya hanya di satu bidang ini — atau yang berkaitan dengan peranti lunak, jasa dan solusi. Ia tak pernah menoleh sedikitpun ke bidang lain. Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini mampu membangun Micrsoft dari titik nol menjadi perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 51,12 miliar alias sekitar Rp 500 triliun pada tahun fiskal Juni 2007. Itu artinya hampir setara dengan 70% belanja negara kita tahun ini.
Melalui payung Microsoft pula ia mampu menampung 78 ribu tenaga kerja yang tersebar di 105 negara. Melalui Microsoft pula ia mendominasi pasar peranti lunak dunia.
Dengan prestasi yang sedemikian hebat, tidak mengherankan jika kedatangannya di Indonesia pekan lalu disambut meriah. Kuliah umumnya berjudul ‘Second Digital Decade’ yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat 9 Mei lalu, dihadiri 2.500 orang, mulai dari presiden, menteri kabinet, pengusaha, profesional hingga mahasiswa. Masih ribuan lagi lainnya yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket untuk mengikuti kuliah umum itu.
Ada satu hal penting yang disampaikan Bill Gates mengenai pendidikan pada kuliah umum itu. “Semua anak (pelajar) harus menyelesaikan pendidikan, untuk itu perlu semua pihak termasuk pemerintahan anda, harus turun tangan untuk itu,” kata Bill Gates, yang disambut tepuk tangan hadirin. Bahkan pada saat sesi tanya jawab, Bill Gates secara tegas menyarankan agar para mahasiswa tidak meniru dirinya,yang DO di tengah jalan meski sempat kuliah di Harvard University.
“Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis,” katanya.
Bagaimanapun juga, kuliah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan mahasiswa. Dan jika ingin menjadi pengusaha, gunakanlah kesempatan magang di perusahaan secara maksimal.
“Saya ini contoh yang buruk,” katanya seperti dikutip Detikcom.
Bill Gates
Selama ini, saya sering membaca kesalahpahaman banyak orang yang ingin menjadi pengusaha dengan mengorbankan kuliah. “Bill Gates yang nggak lulus kuliah saja bisa jadi yang terkaya di dunia,” kira-kira begitulah alasan mereka. Bahkan mereka bisa memberikan banyak contoh orang yang sukses di dunia usaha tanpa embel-embel sarjana. Larry Allison — pendiri Oracle Corporation — misalnya, adalah mahasiswa gagal. Steven Spielberg, sutradara film-film box office dunia, juga putus kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sang triliuner baru yang baru berumur 23 tahun, juga tak menyelesaikan kuliahnya di Harvard University.
Kenyataan di atas kadang malah digunakan sebagai lelucon: bahwa mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang “bodoh” yang tidak lulus kuliah.
Memang, mereka yang tidak memiliki gelar sarjana tetap berpeluang menjadi pengusaha sukses. Namun bukan berarti bahwa mengorbankan kuliah merupakan tiket menuju sukses. Bahkan, jika dilakukan penelitian, kemungkinan sarjana yang sukses menjadi pengusaha amat banyak. Namun, karena sarjana sukses berusaha dianggap sebagai hal yang biasa, tidak banyak media yang mengulasnya. Lebih menarik mengupas tokoh-tokoh sukses yang latarbelakangnya menderita atau kurang bagus — termasuk tidak lulus kuliah. Ini yang bisa menimbulkan persepsi sesat bahwa DO adalah ciri pengusaha sukses.
Bill Gates sudah menyampaikan dengan jelas, bahwa dirinya adalah contoh yang buruk dalam hal akademis. Sesungguhnya ia sangat ingin menggondol gelar sarjana. Simak bagaimana pidatonya setelah ia menerima gelar sarjana kehormatan dari Harvard University tahun lalu:
“Sudah lebih dari 30 tahun saya menunggu untuk mengatakan ini, ‘Ayah, saya selalu bilang saya akan kembali (ke kampus) dan meraih gelar.’ Tahun depan (2008) saya akan ganti pekerjaan. Merupakan sesuatu yang menyenangkan bahwa bisa mencantumkan gelar sarjana di daftar riwayat hidup.”

Benar, ia kini telah berganti pekerjaan. Ia sudah mundur dari manajemen Microsoft, dan “hanya” menjadi chairman. Waktunya lebih banyak didedikasikan ke Yayasan “Bill and Melinda Gates” yang didirikan tahun 2000 dengan tujuan membantu proyek-proyek peningkatan kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan proyek yang memperluas akses masyarakat kepada teknologi.
Ucapan Bill Gates menyiratkan sesuatu, yang kira-kira seperti ini: “Contohlah saya, tapi jangan di sisi akademis.”
Author: "Nukman Luthfie"

Dunia akan lunak kepada anda

Jika anda lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada anda. Sebaliknya, jika anda keras pada diri sendiri, dunia akan lunak kepada anda.
be well,
Dwika



**sd-10807.dedibox.fr
Apa salah satu godaaan terbesar bagi mereka yang sedang mulai merintis usaha? Kalau menyimak penuturan Agus Suprijadi, bos Yogyes.com, adalah godaan untuk bekerja menjadi karyawan.
Ia merintis usaha hanya berbekal uang enam ribu rupiah pada tahun 2000, separonya habis untuk beli bensin, separonya untuk buat proposal yang ia tawarkan ke berbagai hotel di Jogjakarta. Amat sulit meyakinkan pelaku industri pariwisata Jogja agar bergabung di portal pariwisata asli Kota Gudeg itu. Di saat sulit, tanpa uang, tanpa kepastian masa depan, tawaran bekerja berdatangan. Tanpa mental bisnis, ia sudah pasti akan menerima tawaran itu. “Kalau ingin menjadi pengusaha, harus tangguh,” katanya pada seminar Being a Dotcomer di Jogja Sabtu, 31 Mei 2008 kemarin.
Jelas ia tolak kesempatan itu, meski ia dalam posisi amat butuh uang menunjang hidupnya. Ia memilih bertarung melawan diri sendiri. Dan kini ia memetik hasilnya: Yogyes.com menjadi portal wisata terbesar di Jogja, dan mendapat pujian dari koran dunia The Washington Post, sebagai portal yang wajib dikunjungi sebelum berwisata ke Jogja. Pundi-pundi rupiahnya semakin banyak, sehingga ia berani membeli mobil baru yang kemudian diberi logo Yogyes.com, sebagai media promosi berjalannya.
puzzle.jpg
Jika anda orang kaya, atau anak orang kaya, barangkali agak sulit membayangkan kekerasan hati Agus. Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada ini perantauan dari Bangka Belitung Medan, yang selama kuliah menghidupi dirinya sendiri. Ia harus menjaga irama antara kuliah dan hidup. Kekerasan itulah yang membentuknya untuk tangguh memilih jalan sebagai pengusaha. Ia mampu melewati godaan-godaan untuk cepat berhasil mendapatkan uang. Ia, antara lain, menolak menjadi orang gajian.
Lebih dari itu, ia juga berhasil menolak godaan berupa jalan mudah lain: suap. Ia menolak praktik suap-menyuap untuk mendapatkan proyek. “Sekali kita melakuan hal itu, kita tidak akan pernah membangun kompetensi menjadi yang terbaik,” katanya.
Saya sepakat soal itu. Sekali kita membangun jalan mudah mendapatkan rezeki dengan suap, maka kita akan melupakan upaya membangun kompetensi kita sendiri. Kita bisa abai terhadap kualitas layanan dan jasa kita karena merasa sudah menyumpal mulut klien dengan uang suap. Kompetensi yang kita kembangkan akhirnya bukan kompetensi untuk kualitas, tetapi kompetensi untuk menyuap. Mereka yang terjebak di sini akan menjadi usahawan yang tanpa kompetensi. Begitu pasar dibuka, suap diberangus, mereka akan hilang dari peta persaingan.
Saya jadi teringat kisah Paulus Bambang, Vice President Director PT United Tractor ketika membangkitkan perusahaan tersebut dari keterpurukan. Kecuali melakukan langkah-langlah strategis, perusahaan juga melarang praktik-praktik suap yang sudah biasa terjadi di dunia pertambangan. Semula, langkahnya melarang suap ditertawakan banyak orang. Namun, hasilnya luar biasa. United Tractor bisa berubah jadi penyedia alat-alat berat menjadi perusahaan solusi untuk pertambangan. Sudah begitu, perusahaan mampu lolos dari jebakan kerugian dan kebangkrutan. Bahkan, perusahaan publik itu berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang luar biasa tahun lalu.
Saya sendiri termasuk yang keras dalam hal suap. Pernah pernah menolak mengerjakan sebuah proyek yang kami menangkan hanya karena masalah suap. Saya memilih mundur dan kehilangan peluang mendapatkan proyek yang nilainya cukup besar untuk ukuran perusahaan saya. Hati saya kecewa waktu itu, karena kehilangan profit dan cashcow yang bagus. Tapi sekarang saya justru senang, karena dengan menghindari jalan mudah itu, tim saya makin bagus, kesempatan kami mengerjakan proyek lain yang bersih dari suap makin banyak. Rejeki kami tidak kurang.
Dalam dunia usaha, banyak jalan mudah untuk kaya dan berlimpah uang. Tapi jalan mudah seringkali menjebak. Pindah haluan, suap, dan banyak lagi jalan mudah lainnya (misalnya menipu dan memberi janji-janji sorga kaya mendadak tetapi sesungguhnya kita hanya mengeruk uang mereka yang terpesona janji cepat kaya), memang cara cepat menjadi kaya. Namun Agus berhasil menunjukkan, tanpa jalan mudah ia berhasil membangun bisnis yang menarik. Sementara Paulus Bambang bukan hanya berhasil mengubah dari rugi menjadi laba, bahkan membangun United Tractor wajah baru sebagai perusahaan solusi dengan penjualan Rp 18 triliun (delapan belas triliun rupiah) pada tahun 2007.
Di tengah munculnya tantangan baru (kenaikan harga minyak, kenaikan harga barang modal, kenaikan gaji karyawan, penurunan daya beli masyarakat), inilah momentum untuk makin berkeras hati membangun kompetensi perusahaan dan tim agar perusahaan makin memiliki daya saing yang bagus dan solusi yang makin prima.
Saya jadi teringat sebuah kalimat menarik — entah siapa yang membuatnya. “Jika anda lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada anda. Sebaliknya, jika anda keras pada diri sendiri, dunia akan lunak kepada anda”.
Author: "Nukman Luthfie"

Seluruh aspek kehidupan

Masalah ekonomi sebenarnya masalah mendasar dalam seluruh aspek kehidupan kita. Dan hanya satu tempat yang tidak memiliki masalah ekonomi, yaitu di Surg.
be well,
Dwika


**sd-10807.dedibox.fr
Rabu, 27 Mei 2009, pagi saya menghadap Dr. Mohammad Tasrif, dosen sistem dinamik untuk melakukan ujian akhir semester secara lisan. Di awal, beliau meminta saya menerangkan makalah yang saya ulas,  An Attempt to Operationalize The Recommendation of The ‘Limits to Growth’  Study to Sustain The Future of Mankind oleh Surya Raj Acharya dan Khalid Saeed. Singkatnya, makalah tersebut berupaya mengupas kebijakan yang memungkinkan untuk menunjang kesinambungan (sustainability) bumi dalam jangka panjang.
Makalah tersebut merupakan upaya koreksi Khalid Saeed terhadap tulisan Meadows, Limits to Growth, yang memprediksikan kehancuran bumi akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Saeed menganggap rekomendasi yang dibuat Meadows untuk mencegah kehancuran tidak dapat diterapkan dalam kondisi riil.
Setelah itu, beliau menanyakan apakah saya bisa menirukan model yang dibangun dalam makalah tersebut. Saya katakan sejujurnya, bahwa saya tidak sanggup menirukan persis simulasi model tersebut. Kemudian beliau menanyakan lagi, apakah saya membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan model tersebut, saya pun mengiyakan. Beliau kemudian kembali bertanya, jika saya diminta menyusun rekomendasi kebijakan baru di luar yang telah dibuat modelnya oleh Saeed, apakah saya sanggup melakukannya sendiri. Saya katakan bahwa saya tidak akan sanggup.
Pertanyaan selanjutnya cukup mengagetkan saya, karena apa yang beliau tanyakan tidak langsung terkait dengan makalah yang saya bahas.
“Menurut anda, mengapa wacana neoliberal hanya menjadi diskursus antara para ekonom?” Saya katakan bahwa selama ini muncul fenomena yang mengkotakkan isu neoliberal sebagai wacana ekonomi.
Beliau balik mengatakan kepada saya keheranannya, ”Bagaimana bisa ekonom mengatakan pentingnya neoliberal tanpa melihat sektor lain? Padahal inti neoliberal kan pengurangan peran pemerintah. Yang jadi pertanyaan, sektor mana yang akan dikurangi peranannya dan apakah sektor tersebut siap jika diserahkan ke non pemerintah. Apakah pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab hanya oleh ekonom?”
brokenchain
Dalam berpikir sistem, kita dihadapkan pada sebuah paradigma bahwa antara satu dan lain hal di dunia ini selalu mempunyai hubungan, baik langsung maupun tidak langsung. Hubungan-hubungan inilah yang selalu diteliti, baik perilaku maupun strukturnya agar kita bisa merumuskan sebuah sistem yang baru.
Ekonomi sendiri merupakan sebuah sistem yang rumit. Ekonomi juga menyangkut masalah populasi, kualitas hidup, daya dukung lingkungan dan lain sebagainya. Untuk menjelaskan ekonomi, kita sesungguhnya membutuhkan dokter, para pakar lingkungan, insyinyur, pengusaha, bahkan pakar pertahanan.
Ironis, terkadang saya mendapati banyak yang mengagungkan pandangan ahli ekonomi dan merendahkan pandangan pihak lain. Ah, si anu kan tidak bergelar doktor ekonomi, si anu hanya pengusaha, si anu seorang teknolog, si anu cuma mantan jenderal, dan sebagai dan sebagainya. Apakah para ahli ekonomi memang memiliki keahlian yang memadai untuk menyelesaikan sebuah masalah ekonomi? Kalau benar, berarti yang kita butuhkan adalah sekolah jurusan ekonomi sebanyak-banyaknya, dan tidak perlu jurusan lain. Karena masalah ekonomi sendiri sebenarnya masalah mendasar dalam seluruh aspek kehidupan kita. Dan hanya satu tempat yang tidak memiliki masalah ekonomi, yaitu di Surga :-).

—————————————-
Ditulis oleh Jalu P. Priambodo,

Membuka lapangan kerja

Facebook telah membuka lapangan kerja begitu banyak dengan prospek karir yang cerah ….
Bahkan Facebook membuka bisnis baru untuk pihak lain — para pembuat aplikasi, pembuat game, dan sejenisnya yang memanfaafkan platfrom Facebook — dengan skala bisnis yang lebih besar dari Facebook sendiri….
be well,
Dwika


Date: Tuesday, 19 May 2009 07:06
Salah satu fenomena online dua tahun terakhir ini adalah Facebook. Situs jejaring sosial ini mengharubirukan rakyat AS dalam kampanye Obama, kemudian mewabah di seluruh dunia. Kalau mau, Facebook bisa mendirikan negara online mengingat anggotanya mencapai 200 juta jiwa, setara sebuah negara besar. Sebentar lagi masyarakat Facebookiah akan mengalahkan jumlah rakyat Indonesia. Sungguh fenomelan. Tapi fenomena Facebook kini merambah ke bidang lain: bisnis.
Soal sang pencipta Facebook, Mark Zuckerberg, yang tahun lalu menjadi pengusaha terkaya di dunia paling muda versi Forbes, sudah banyak yang tahu. Pada saat yang sama, barangkali juga banyak yang sudah tahu, meski jumlah penggunanya melesat tajam, Facebook kesulitan menemukan model bisnis untuk meningkatkan income perusahaan. Namun, di kala krisis finansial melanda seluruh dunia tahun lalu, dan berdampak buruk ke hampir semua perusahaan, Facebook justru tumbuh. Perusahaan yang menaungi 800 karyawana tersebut membukukan nilai penjualan sekitar US$ 300 juta tahun lalu.  ”Kami sedikit dari perusahaan dunia yang masih bisa tumbuh di tengah resesi,” kata Mark Zuckerberg.

Tahun ini, pertumbuhan akan semakin tinggi. Jumlah karyawan Facebook akan mencapai angka seribu orang tahun ini. Pada saat yang sama, nilai penjualan Facebook pada tutup tahun 2009 nanti diperkirakan mencapai US$ 500 juta alias lima triliun rupiah dengan kurs 1 USD = Rp 10 ribu. Kenaikan 40% di tengah resesi jelas prestasi yang fenomenal.
Namun, ada yang tidak kalah fenomenalnya. Facebook berhasil menciptakan sebuah lingkungan bisnis bagi pihak lain dengan nilai yang juga luar biasa besar. Facebook mempersilahkan siapa saja untuk membangun aplikasi dan game di Facebookasal memenuhi standarnya. Tahukah anda berapa nilai bisnis yang berhasil diraup oleh para pembuat aplikasi di Facebook? Venturebeat memperkirakan, uang senilai USD 500 juta akan masuk ke kantong para pembuat aplikasi Facebook tahun ini. USD 500 juta? Ya, betul. Itu artinya sama dengan income yang diraih Facebook pada tahun yang sama.
Bahkan ada yang berani meramalkan pasar aplikasi Facebook itu akan melampai angka tersebut. “Saya tidak akan heran jika pendapatan para pembuat aplikasi Facebook akan lebih besar ketimbang pendapatan Facebook tahun ini,” kata Tim O’Shaughnessy, CEO LivingSocial, salah satu pembangun aplikasi terpopuler di Facebook.

Apa artinya?
Facebook berhasil membuat penciptanya kaya raya …
Facebook berhasil menentramkan para investornya dengan pertumbuhan salesnya ….
Facebook telah membuka lapangan kerja begitu banyak dengan prospek karir yang cerah ….
Bahkan Facebook membuka bisnis baru untuk pihak lain — para pembuat aplikasi, pembuat game, dan sejenisnya yang memanfaafkan platfrom Facebook — dengan skala bisnis yang lebih besar dari Facebook sendiri….
Facebook bukan kaya untuk diri sendiri. Facebook bahkan lebih mengkayakan pihak-pihak lain.

Berwirausaha sejak dini

Berwirausaha sejak dini jauh lebih manjur ketimbang mulai dari Universitas. Sementara Universitas mencari jalan mendorong kewirausahaan, para orang tua (juga guru sekolah) sebaiknya memberikan suasana kewirausahaan sejak dini.
be well,
Dwika


**sd-10807.dedibox.fr
“Ayah saya dulu (akhir 60an - awal 70an) sebagai Kepala Sekolah SD di kampung meminta semua siswa setiap berangkat sekolah memungut sebuah cumplung — kelapa berlubang dimakan tupai. Setelah cukup terkumpul dijual untuk bahan bakar pembuatan genteng,” kenang Rahmat Samsurizal, mengenai bagaimana inisiatif guru mendidik muridnya agar bisa bermental pengusaha.  Inisiatif-inisiatif lain yang mudah dikerjakan, yang nyaris tanpa modal uang, juga dilakukan. “Tidak heran jika SD kami kemudian punya kolam ikan, ternak kambing, ternak ayam, kebun bengkoang dan kebun sayuran,” kata jebolan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. “SD kami pun akhirnya menjadi percontohan untuk daerah Kedu Selatan,” lanjutnya.  Tidak heran pula jika teman kuliah saya dulu itu kini juga memilih jalan hidup sebabagai pengusaha.
Ini adalah salah contoh pendidikan wirausaha sejak dini.

Saya pun jadi teringat jaman kecil dulu. Sejak SD saya dan adik-adik sudah biasa mendapat tugas untuk belanja kebutuhan keluarga. Mereka yang sekolah siang mendapat tugas belanja ke pasar, membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli sayur, beras, ikan dan tetek bengeknya. Tanpa sadar, dari situlah kami mengenal namanya pasar dan dunia tawar menawar. Kami bisa pula belajar bagaimana memahami produk yang bagus atau jelek. Cara memilih ikan bandeng misalnya, dengan membuka insangnya, jika masih merah menyala itu tandanya masih segar. Dan jangan lupa dibaui dulu, apakah tercium aroma lumpur atau tidak.
Kami juga dibiasakan untuk membuka etalase toko “taylor” — penjahit — di pagi hari sebelum penjahit khusus kami berdatangan. Ayah memang dulu pengusaha “taylor” yang punya spesialisasi di jas. Upacara pagi kami selanjutnya adalah membersihkan kaca etalase, menyapu lantai agar sisa-sisa potongan kain tidak berserakan di lantai. Ketika SMP kebetulan saya masuk siang, sehingga paginya betul-betul dimanfaatkan untuk bekerja (yang buat saya sesungguhnya bersenang-senang). Saya belajar mulai dari yang paling sederhana: menyeterika baju. Kemudian naik pangkat memasang kancing. Saya ingat betul bagaiman jari manis saya mesti dibungkus kain atau dikubahi logam untuk mendorong jarum ke sela-sela kancing baju. Dari situlah kemudian meningkat menjadi pengukur baju.

Salah satu yang tidak akan saya lupakan adalah hari Jumat. Itulah hari gajian para penjahit kami. Gaji mereka memang mingguan, dan dihitung berdasarkan kemampuan produksi masing-masing. Yang rajin dan pintar dapat banyak. Yang biasa saja ya dapat sesuai dengan kemampuannya. Saya pun begitu, dapat honor dari berapa baju yang saya seterika dan saya pasangi kancing. Dari honor itulah saya bisa bermain ke sana kemari dan mentraktir teman-teman SMP nonton bioskop.
Dari hal-hal sederhana seperti itulah orang tua saya mendidik anaknya. Ibu “memaksa” anak-anaknya belanja ke pasar, tidak peduli lelaki maupun perempuan. Sementara ayah “memaksa” anaknya membantu bisnisnya.  Tidak mengherankan kalau hampir semua anak-anak tersebut memiliki jiwa kewirausahaan yang lumayan tinggi.
Pengalaman masa kecil saya jelas beda dengan Rahmat Samsurizal. Saya mendapat pendidikan kewirausahaan sejak kecil di keluarga. Sementara Rahmat menyaksikan bagaimana ayahnya yang seorang pendidik menerapkan gagasan-gagasan wirausaha di sekolah.
Namun keduanya memiliki ciri yang sama: memulai dari yang sederhana. Hanya memungut cemplung, hanya belanja di pasar, hanya menyeterika baju, dan hanya hanya lainnya.
Persamaan lainnya adalah: memulai sejak dini. Kami berdua sudah mendapatkannya sejak SD.
Saya yakin, banyak pengusaha yang memiliki latarbelakang dua hal tersebut: memulai dari yang sederhana dan sejak dini.

Tadi pagi, Senin, 18 Mei 2009, saya membaca koran Kompas yang menulis bahwa di dalam UU Badan Hukum Pendidikan disebutkan, Universitas harus mendorong kewirausahaan.  Lalu saya membuat diskusi melalui status di Facebook saya dengan mempertanyakan bagaimana cara Universitas memenuhi amanat Undang-Undang tersebut. Terjadi diskusi yang menarik. Namun, setelah  Rahmat Samsurizal menceritakan masa kecil di sekolahnya dalam diskusi di Facebook tersebut, saya mengambil kesimpulan, berwirausaha sejak dini jauh lebih manjur ketimbang mulai dari Universitas. Sementara Universitas mencari jalan mendorong kewirausahaan, para orang tua (juga guru sekolah) sebaiknya memberikan suasana kewirausahaan sejak dini.

Selalu dimulai dengan TUJUAN

Selalu dimulai dengan TUJUAN.
Kalau sudah runtut seperti di atas, baru masuk ke langkah taktis. Misalnya, untuk contoh di atas, bagaimana membangun webnya, bagaimana mempromosikannya, bagaimana menggunakan Facebooknya atau social media lain, bagaimana menggunakan email marketingnya, dan seterusnya.
be well,
Dwika



**"Nukman Luthfie"
Saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana bisa sukses membuat situs web yang banyak dikunjungi dan bisa berjualan di online, baik oleh pebisnis online maupun para pelaku bisnis offline yang ingin ekspansi pasar melalui  dunia maya. Bahkan beberapa diantaranya berharap dapat sukses dengan biaya seminim mungkin, kalau perlu gratis. Belakangan ini, seiring dengan maraknya social media, saya juga sering mendapat pertanyaan, bagaimana cara cepat agar bisa berjualan lewat jejaring sosial seperti Facebook. Tentu saja tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Kenapa sulit? Karena yang ditanyakan adalah sesuatu yang taktis. Bagaimana membuat web yang bakal banyak dikunjungi pengguna Internet , itu taktis. Bagaimana menggunakan Facebook sebagai ajang jualan, itu taktis. Kita seringkali lupa, online itu hanya medium. Website perusahaan,  web site jualan barang, toko online, e-commerce, Facebook, Twitter dan lain sebagainya itu hanyalah sebuah media.

Banyak pengusaha baik kecil menengah maupun yang enterprise, terjebak pada pendekatan taktis. Mereka seolah lupa bahwa untuk sukses itu wajib melakukan pendekatan strategis, dengan cara berfikir strategis.
strategic-thinking
Apa bedanya taktis dan strategis? Yang taktis sudah saya contohkan di atas. Sedangkan yang strategis lebih esensial.  Saya berikan contoh yang menarik ketika berdiskusi dengan salah satu pengusaha kecil yang memproduksi sebuah produk yang tidak saya sebut di sini.  Ia sudah mendistribusikan produknya ke berbagai kota besar dan lumayan laku. Ia sudah membuat sebuah situs web dengan harga yang dianggapnya cukup mahal. Ia berharap akan banyak order dari pengguna Internet di berbagai belahan Nusantara. Ia berharap ada pembeli retail atau perorangan. Ia juga berusaha memanfaatkan Facebook untuk mempromosikan barangnya.

Ia mengeluhkan betapa kecilnya trafik ke situs webnya, yang otomatis juga memperkecil peluang mendapatkan pembeli perorangan di situsnya.
Untuk menggali di mana masalahnya, saya ajak ia diskusi, yang saya petikkan sebagian diantaranya di bawah ini.

Nukman: Apakah anda memproduksi sendiri produk itu?
Pengusaha: iya, betul, saya memang produsennya.
Nukman: Anda jual/distribusikan sendiri?
Pengusaha: Saya titipkan ke berbagai toko di kota-kota besar
Nukman: Laku?
Pengusaha: Alhamdulillah laku dan berkembang, sehingga karyawan saya lumayan banyak, tapi saya ingin lebih laku lagi, terutama lewat Internet.
Nukman: Barapa harga per item produknya?
Pengusaha: Rp 40 ribuan
Saya langsung terbayang, betapa repotnya mengurusi penjualan retail untuk produk yang semurah itu. Untuk mendapat omset Rp 4.000.000 sehari paling tidak ia harus menjual 100 item ke 100 pembeli, yang sepertinya agak sulit jika melalui Internet.
Nukman: Jadi anda berharap banyak orang membeli produk itu lewat Internet?
Pengusaha: Iya, betul. Bukankah sekarang eranya berjualan lewat Internet? Saya tidak mau ketinggalan tren ini.
Nukman: Baiklah. Seandainya ada pembeli online yang berasal dari sebuah kota, katakanlah Jogjakarta, dan di kota itu sebenarnya ada  toko yang menjual produk Anda, apakah pemilik toko itu tidak marah?
Pengusaha itu diam sejenak dan tidak menjawab.
Nukman: Bagaimana jika situs webnya bukan untuk jualan retail, tapi untuk memperluas jaringan, untuk mencari distributor baru? Dengan menjaring sebanyak mungkin distributor baru melalui online, diharapkan produk Anda semakin banyak tersebar ke berbagai wilayah.
Saya membayangkan, akan lebih mudah mencari pembeli grosir dalam jumlah banyak sekali beli, sehingga omset onlinenya bisa lumayan besar.
Pengusaha: ahaaaaa, jadi melalui web saya lebih banyak melayani distributor ya? Tidak perlu jualan ke retail ya?
Pengusaha itu bertanya sambil tersenyum cerah.
Pengusaha: dan selanjutnya saya tinggal melakukan promosi agar kossumen paham produk saya dan akhirnya berniat beli ke distributor atau toko-toko yang menjual produk saya tadi?
Saya mengangguk saja.

Dengan diskusi sederhana itu, pekerjaan rumahnya bukan bagaimana meningkatkan penjualan retail di Internet, tetapi bagaimana membangun jaringan yang lebih luas agar produknya tersebar di berbagai wilayah, sekaligus melakukan promosi online agar target audiencenya memahami produknya, kemudian mencari dan membelinya.
Itulah salah satu contoh berpikir secara strategis, yang selalu dimulai dengan pertanyaan sederhana:
1. Apa sih tujuan/objektif  (misalnya) masuk ke Internet?
2. Siapa target pasarnya?
3. Bagaimana perilaku online target pasarnya?
4. Bagaimana menjangkau target pasarnya?
5. Dan seterusnya.
Dengan berpikir strategis, langkah-langkah taktis dapat dilakukan dengan lebih terarah dan terukur, dan efisien.  Yang tadinya ingin berjualan retail, kini berubah menjadi berjualan grosir atau memperluas distribusi dengan skala penjualan yang lebih besar.

Diskusi strategis di atas hanyalah contoh. Kita bisa membuat contoh-contoh lain, yang selalu dimulai dengan apa TUJUANNYA.

Kalau sudah runtut seperti di atas, baru masuk ke langkah taktis. Misalnya, untuk contoh di atas, bagaimana membangun webnya, bagaimana mempromosikannya, bagaimana menggunakan Facebooknya atau social media lain, bagaimana menggunakan email marketingnya, dan seterusnya.
Author: "Nukman Luthfie"

Wajib memberi nafkah

Kita tetap punya kewajiban untuk memberi nafkah ke keluarga . Jangan sampai keluarga kelaparan, berantakan, anak tidak bisa membayar sekolah, karena kita tidak menyiapkan cadangan uang buat mereka selama kita memutus jalur penghasilan tetap (wirausaha).
be well,
Dwika


**"Nukman Luthfie"
Banyak yang ingin jadi pengusaha, namun tak juga terjun jadi pengusaha bertahun-tahun karena berbagai hambatan, seperti restu orang tua, keluarga atau istri. Hambatan lain: belum punya (kekurangan) modal, serta belum menemukan mitra yang tepat. Yang paling berat adalah hambatan kenikmatan menjadi karyawan, dengan gaji tetap, tunjangan dan bonus (yang  tinggi untuk yang sudah berada di puncak). Kita seringkali tak siap kehilangan pendapatan tetap sebagai karyawan.
Maka, jika sudah mantap menjadi pengusaha, saya sarankan “bakar kapal” seperti yang saya lakukan akhir Desember 2002 saat mengundurkan diri sebagai Direktur IT dan Pemasaran Detik.com.  Keluar bukan untuk melamar menjadi karyawan/eksekutif di tempat lain. Tapi langsung membangun usaha dengan segala risikonya.
Apa risikonya? Cuma dua: berhasil atau gagal. Ada yang berhasil, usahanya tumbuh baik dan mengkilap dalam tempo cepat. Ada yang tumbuh meski banyak tantangan di perjalanan bisnisnya. Tapi tak sedikit yang gagal, merepotkan mitra bisnisnya dan keluarga, dirundung hutang, bahkan ada yang lalu kembali lagi menjadi karyawan.
Agar tidak mudah terjerumus ke jurang kegagalan, bakar kapal harus dipikirkan baik-baik, berdasarkan akal sehat, bukan hanya karena terbakar emosi akibat motivasi seseorang.
Maka, sebelum bakar kapal, pastikan hal-hal di bawah ini sudah dilakukan.
1. Sudah jelas bisnis yang akan ditekuni.
Pernah mendengar kalimat ini: “Saya pingin jadi pengusaha tapi belum tahu mau bikin bisnis apa,“? Saya tak hanya pernah, bahkan sering mendengar beberapa orang berkata begitu dengan semangat tinggi. Biasanya hal ini terjadi karena yang bersangkutan baru mengikuti seminar atau acara lain yang membakar semangat menjadi pengusaha.
Jangan bakar kapal jika masih belum jelas mau bisnis apa. Hasilnya hampir pasti gagal dan buruk buat masa depan.
Saya dulu berani bakar kapal karena sudah jelas visinya: menjadi pengusaha online dengan membangun jasa consulting (Virtual Consulting) yang fokus pada strategi online memang menjadi keahlian saya, plus membangun bisnis online lain yang terkait kompetensi saya (sekarang ada PortalHR.com, Juale.com, dan Musikkamu.com , tidak termasuk beberapa lainnya yang kandas di tengah jalan)
2. Business plan sudah siap.
Jika sudah jelas mau  bisnis apa, berikutnya: sudahkah membuat rencana bisnisnya? Tidak sulit membuat business plan. Jika tidak bisa, minta bantu teman yang ahli. Jika sulit mencari yang bisa membantu membuat rencana bisnis, buat saja yang sederhana, sehingga kita tahu bisnis yang kita akan tekuni itu seperti apa, siapa target pasarnya, berapa potensi pasarnya, siapa pesaingnya, apa sumber daya (manusia, teknologi, modal) yang kita butuhkan dan kita tahu di mana mencarinya.
T anpa 1 dan 2, jangan terburu-buru bakar kapal. Salah-salah, Anda yang terbakar.
3. Bagi yang berkeluarga, pastikan punya cadangan belanja yang aman.
Bakar kapal itu besar risikonya. Bakar kapal itu menghilangkan pendapatan tetap, yang biasa kita nikmati setiap bulan, sejelek apapun performa kita.  Jika kita punya keluarga, kita tetap punya kewajiban untuk memberi nafkah ke mereka. Jangan sampai keluarga kelaparan, berantakan, anak tidak bisa membayar sekolah, karena kita tidak menyiapkan cadangan uang buat mereka selama kita memutus jalur penghasilan tetap itu.
Ingat lho, saat kita memulai usaha sendiri, mungkin saja kita belum bisa menggaji diri sendiri pada awal-awal bulan (seringkali dianggap sebagai utang perusahaan ke eksekutif).
Maka, siapkan cadangan minimal sesuai dengan prediksi kita, berapa lama kita mulai bisa menggaji diri sendiri sebagai eksekutif usaha kita sendiri, yang cukup untuk membiayai kebutuhan normal keluarga. Bisa tiga atau enam bulan, tergantung perhitungan bisnisnya. Dulu, ketika saya membakar kapal, saya sudah siapkan 12 bulan kebutuhan keluarga dalam bentuk deposito yang saya niatkan untuk tidak disentuh sama sekali untuk kebutuhan selain keluarga.

Jika poin 1,2 dan 3 terpenuhi, secara akal sehat, kita boleh bakar kapal.
4. Berbagi risiko dengan istri/suami.
Dalam satu keluarga, sebaiknya suami istri jangan membakar kapal pada saat yang sama meski keduanya sama-sama berniat menjadi pengusaha. Saat yang satu bakar kapal, sebaiknya pasangannya tetap menjadi karyawan, agar dapur tetap ngebul dari gaji rutin sebagai karyawan. Pilih secara bijaksana, mana yang membakar kapal terlebih dulu. Boleh istri atau suami dulu.  Jika yang bakar kapal sudah berhasil, cash flow bagus, yang satunya bisa menyusul jadi pengusaha. Sabar.
5. Berbagi risiko dengan mitra
Risiko gagal akibat bakar kapal bisa kita perkecil jika saat membangun usaha, kita tidak sendirian.  Jika bertiga misalnya, satu atau dua boleh bakar kapal, yang lainnya tetap sebagai karyawan untuk memenuhi kebutuhan minimal bulanan  mitranya yang mungkin belum bisa menggaji penuh dirinya sendiri saat memulai usaha.
Nomor 1,2 dan 3 di atas menurut saya menjadi syarat mutlak bakar kapal. No 4 dan 5 merupakan syarat tambahan untuk menekan risiko.
Ada yang ingin menambahi poin di atas?
Author: "Nukman Luthfie"

Bagus mutu layanan karena fokus

Saat memulai usaha, kita perlu belajar banyak mengelola pelanggan. Semakin sedikit pelanggan yang kita kelola di awal usaha, semakin bagus mutu layanan kita karena fokus. Dari fokus itulah kita bisa lebih mengenal seluk beluk pelayanan pelanggan, sehingga kita bisa meningkatkan layanan dan produk kita.
be well,
Dwika



Date: Wednesday, 24 Aug 2011 02:08
Pelajaran investasi yang amat populer adalah: jangan taruh telor di satu keranjang. Taruh di banyak keranjang untuk memperkecil risiko dan menuai hasil yang lebih optimal. Ilmu investor ini juga diadopsi oleh banyak pengusaha: membuka banyak usaha, misalnya 10 usaha, agar kalau delapan mati, masih ada dua yang tumbuh tinggi, dan untungnya bisa menggantikan delapan yang mati. Ilmu ini, bahkan juga dipegang erat-erat oleh banyak manajemen perusahaan: cari klien sebanyak mungkin agar penjualan naik pesat, dan jika ada satu dua yang kecewa akan tertutup oleh lainnya yang puas.
Ilmu ini sudah dipegang lama oleh banyak kalangan. Taruh telor di banyak keranjang menjadi kalimat sakti. Kalimat “Don’t put all your eggs in one basket” pun menjadi idiom bisnis di seluruh dunia.

Benarkah? Saya akan menjawab khusus untuk bisnis yang baru dirintis, yang istilah kerennya start-up business. Saat memulai usaha, kita akan mencari pelanggan sekuat tenaga. Begitu dapat satu pelanggan, cari pelanggan baru, dan seterusnya sehingga usaha berkembang. Semangat ini dijalankan baik oleh pengusaha retail maupun B2B.
Untuk retail, semangat mendapatkan sebanyak mungkin pelanggan di awal usaha itu benar. Tapi, untuk B2B, yang memberi solusi antar perusahaan, pendekatan itu ternyata tak selalu benar. Riset menunjukkan, yang berhasil, kebanyakan justru yang fokus pada segelintir pelanggan di awal usaha.
Analisa itu disampaikan Helena Yli-Renko, asisten profesor kewirausahaan Lloyd Greif Center for Entrepreneurial Studies di University of Southern California, dan Ramkumar Janakiraman, asisten profesor pemasaran Mays Business School di Texas A&M University.
Mereka memantau 180 perusahaan baru yang bergerak di bidang teknologi di Inggris selama enam tahun. Yang bertahan bagus selama enam tahun kemudian dianalisa. Hasilnya? Mereka yang di awal fokus hanya mengelola segelintir pelanggan utama, pada tahun keenam tumbuh besar, kemudian bisa mengelola lebih banyak pelanggan, dengan rata-rata 46 pelanggan. Sebaliknya, mereka yang di awal haus pelanggan, mencari pelanggan sebanyak mungkin, di tahun keenam malah kehilangan banyak pelanggan, hingga tersisa rata-rata 12 pelanggan saja.
Pelajaran yang bisa kita petik: jika kita memiliki dua perusahaan yang dimulai pada saat yang sama, ukurannya sama, tim manajemennya sama, maka perusahaan yang hanya menfokuskan diri di awal usaha pada sedikit pelanggan, seiring dengan waktu akan tumbuh membesar dan menggaet lebih banyak pelanggan.
Bagi yang berpendapat   “Don’t put all your eggs in one basket”, analisis ini mungkin mengagetkan. Namun, secara manajerial sesungguhnya masuk akal. Saat memulai usaha, kita perlu belajar banyak mengelola pelanggan. Semakin sedikit pelanggan yang kita kelola di awal usaha, semakin bagus mutu layanan kita karena fokus. Dari fokus itulah kita bisa lebih mengenal seluk beluk pelayanan pelanggan, sehingga kita bisa meningkatkan layanan dan produk kita.
Nah, pelanggan yang puas inilah yang kemudian getok tular mengabarkannnya ke perusahaan lain yang kemudian tertarik menjadi pelanggan juga.
Pengamatan dua asisten profesor di atas menunjukkan “menaruh telor di satu keranjang” tidak selalu buruk, bahkan bisa sebaliknya secara jangka panjang lebih baik.
Tapi ingat, analisa ini hanya berlaku untuk para pengusaha yang baru membuka bisnisnya.
Author: "Nukman Luthfie"

Microblogging

Hadirnya microblogging seperti Twitter dan jejaring sosial seperti Facebook, dituduh sebagai penyebab utama melorotnya minat menulis blog. 
be well,
Dwika



**"Nukman Luthfie"
Para narablog (blogger) yang tiga tahun lalu begitu rajinnya menulis blog, saya perhatikan, perlahan mulai menurun frekwensi ngeblognya. Sebagian malah berhenti sama sekali. Pada saat yang sama, mereka begitu rajinya berceloteh di Twitter dengan 140 karakternya atau update status di Facebook. Hanya segelintir narablog yang saya kenal, yang masih bertahan dengan kegigihannnya menulis blog, seperti Roni Yuzirman, Yodhia Antariksa, Paman Tyo,  Blontank Poer, Sitta Karina,  Bukik , Okto Silaban, Pitra, Mbelgedez dan Karmin Winarta.
Bukan hanya narablog yang semakin jarang ngeblog. Mereka juga kian jarang blog-walking (membaca blog teman-temannya dan meninggalkan jejaknya di sana dengan sepotong dua potong komentar).
Hadirnya microblogging seperti Twitter dan jejaring sosial seperti Facebook, dituduh sebagai penyebab utama melorotnya minat menulis blog.  Narablog makin jarang ngeblog tapi aktif di Twitter dan Facebook. Mereka yang biasa blog-walking kini lebih cerewet di Twitter dan Facebook, makin jarang meninggalkan komentar di blog. Mereka sepertinya lebih suka berkomentar di jejaring sosial.
Blog pun semakin sepi komentar.  Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan. Ini, antara lain yang membuat narablog kian malas menulis blog.
Tentu social media bukan satu-satunya alasan. Kesibukan, kehilangan sumber ide tulisan, dan kehilangan mood menulis termasuk alasan yang disebut saat saya ajukan pertanyaan di Twitter mengapa mereka kini jarang ngeblog. Saya pun termasuk yang semakin jarang menulis blog, tapi kini perlahan masuk ke jalur yang benar lagi :) .

Bagaimana menyalakan kembali api menulis blog?

1. Hayati lagi, apa alasan kita memulai ngeblog.
Saran bijak kepada pasangan suami istri yang mau bercerai adalah dengan pertanyaan: “coba ingat-ingat, apa yang membuat kalian berdua bersatu menjadi suami istri?”  Jika jawabannya adalah cinta, maka membuka komukasi yang macet akan lebih mudah.
Saya pun mulai ngeblog karena cinta menulis. Saya tetap cinta menulis sampai hari ini. Hanya kesibukan yang amat sangat, termasuk membangun bisnis baru Musikkamu.com, yang membuat frekwensi menulis blog merosot drastis. Kini cinta itu saya gali lagi. Berhasil. Tulisan blog mulai mengalir lagi, baik yang personal di sini, maupun yang korporat di Virtual Consulting.

2. Tetapkan target frekwensi menulis blog.
Saya sangat suka ketika Yodhia Antariksa mengawali blognya langsung memuat pernyataan akan menulis posting blog baru setiap Senin dan Kamis. Dan ahli manajemen sumber daya manusia ini konsisten dengan pernyataannya. Saya sangat suka blog Strategi Manajemen yang ditulis renyah padat dan up to date itu.
Saya juga angkat topi dengan Jamil Azzaini, yang bertekad menulis blog setiap hari di blognya yang baru dirilis beberapa bulan lalu. Setiap hari? Ya. Setiap hari. Selama ini inspirator Sukses Mulia itu konsisten dengan komitmennya. Semoga terus bertahan.
Saya sendiri cukup sepekan sekali menulis blog.

3. Being found itu penting.
Saya aktif di hampir semua jejaring sosial. Rajin ngetweet. Masih semangat di Facebook. Kini sedang berhasrat dengan Google+.  Tapi saya sadar, meski enak bercakap-cakap, bercengkerama, dan bersosialisasi di sosial media, namun media ini memiliki kekurangan yang fatal: tak terarsip dengan baik dan ide kita terpecah-pecah dalam karakter terbatas sehingga berpotensi disalahpahami . Meski kultwit ampuh, tak banyak yang suka membaca tweet kita satu per satu. Dan kultwit itu akan “hilang dan sulit dicari”.
Blog memiliki kelebihan itu. Tulisan bisa sepanjang apapun yang kita mau sehingga teks dan konteks melebur dengan baik, memudahkan pembaca memahami tulisan. Dan yang tak kalah pentingnya, tulisan itu terarsip dengan baik di blog, dan mudah ditemukan di Google.
Author: "Nukman Luthfie"

Digital Revolution

Digital Revolution atau Internet Revolution, Michael McFaul mencatatnya sebagai revolusi pertama di dunia yang digalang besar-besaran via online. Hampir semua alat digital digunakan untuk revolusi, mulai dari SMS, media online independen, hingga forum diskusi online. Catatan: pada 2004 social media seperti Facebook dan Twitter belum populer di seluruh dunia.
be well,
Dwika



**"Nukman Luthfie"
dimuat di majalah Rolling Stone edisi 71, Maret 2011
Jumat malam, 14 Januari 2011, Zine al-Abidine Ben Ali dan keluarganya terbang dengan jet menuju Saudi Arabia.  Presiden Tunisia itu melarikan diri, meninggalkan negaranya  dalam kondisi carut-marut oleh demontrasi melawan rezim yang ia pimpin selama 32 tahun.  Tiran itu jatuh setelah sebulan unjuk rasa massal berdarah yang dipicu oleh aksi bakar diri Mohamed Bouazizi, tukang sayur miskin yang tak kuasa melawan kesewang-wenangan polisi yang merampas dagangannya.
Untuk mengatasi unjuk rasa nasional itu, sebagaimana rezim penguasa lain, Ben Ali mengendalikan semua media konvensional, baik itu koran, radio maupun teve. Bahkan rezimnya juga menteror wartawan yang  meliput demo.  Internet pun diawasi ketat, situs-situs yang dianggap berbahaya dan melawan diblokir. Beberapa situs jejaring  sosial, terutama video sharing seperti Dailymotion dan Youtube, juga diblokir. Namun, entah kenapa, Facebook justru tidak diblokir. Via jejaring sosial itulah perlawanan digalang, sehingga mendapat dukungan dari banyak pengunjuk rasa lain dan dari aktivis pro demokrasi di luar negeri. Penyebaran informasi,  penggalangan aksi yang masif via social media dan jatuhnya rezim Ben Ali setelah 23 tahun berkuasa inilah yang kemudian menimbukan asumsi bagi para penganut faham cyberutopianism: ”Yang terjadi di Tunisia merupakan Revolusi Twitter pertama di dunia”
Secara sederhana, cyberutopianism adalah pandangan yang mengatakan teknologi dan Internet, mampu mengubah dunia. Internet, misalnya, akan menggedor demokrasi di negara-negara tiran. Internet, bisa meredam teror. Bahkan, Internet bisa meningkatkan taraf ekonomi sebuah negara. Internet diyakini sebagai senjata yang amat ampuh untuk mengatasi segala macam masalah dunia saat ini. Utopia bisa terjadi di Internet
Penganut faham cyberutopianism ini cukup banyak, bahkan diantaranya adalah orang-orang hebat di bidangnya. Mantan presiden Amerika Serikat, George Bush, misalnya mengatakan: “Bayangkan, seandainya Internet bisa masuk ke China, kebebasan akan mengalir deras di sana”. Bahkan raja media Rupert Murdoch, pernah berujar: “Perkembangan teknologi komunikasi, jelas-jelas mengancam para tiran di mana saja, di seluruh dunia.”
Dan kita semua tahu sekarang, ucapan Bush tak terbukti. Di China, Internet berkembang pesat, dengan 350 juta pengguna. Alih-alih demokrasi berkembang, China melakukan penyensoran ketat, Google diawasi ketat, konten difilter, bahkan Twitter dan Facebook diblokir. Demikian pula ucapan Murdoch. Bukan hanya tidak terbukti, lebih dari itu Raja Media itu terpaksa bertekuk lutut di kaki penguasa China, yang mengancam bisnis teve satelit regionalnya.
Namun, paham ini terus berkembang seiring dengan kian banyaknya studi kasus tentang kaitan positif antara demokrasi dan Internet. The Berkman Center for Internet Society di Harvard University misalnya, mensponsori telaah tentang bagaimana pengaruh Internet terhadap demokrasi. Paper pertama mengenai Online Citizen Jurnalism dengan studi kasus media terkenal di Korea: OhMyNews.com, yang digerakkan oleh jurnalis warga, bukan jurnalis profesional.
Para jurnalis warga ini setiap hari menulis berita di OhMyNews.com selayaknya jurnalis profesional.  Tak seperti media tradisional seperti radio, cetak dan tv yang seringkali dikontrol dan disensor pemerintah tiran, jurnalis warga yang dibuat di online tak bisa diintervensi pemerintah. Itu sebabnya, jurnalis warga online ini seringkali mengisahkan hal-hal yang  tak (berani) dimuat di koran, radio dan tv, sehingga memberi warna yang berbeda dari suara resmi pemerintah.   Contoh nyata terjadi di Korea Selatan. Situs berita berbasis juranis warga (user generated content) OhMyNews.com mempengaruhi pemilihan presiden Korea Selatan pada tahun 2002.
Media berita adalah pilar demokrasi, dengan catatan harus memberi ruang dialog bagi publik, bukan hanya menyampaikan hasil demorasi melalui berita saja, tetapi melibatkan publik dalam proses demokrasi.
OhMyNews.com memenuhi syarat itu. Semua warga diizinkan menulis berita, tanpa difilter sama sekali, dan siapapun boleh mengomentari berita itu sehingga terjadi dialog yang intens antar warga. Dengan slogan “Setiap warga adalah reporter”, OhMyNews.com memberi ruang dialog bagi publik yang selama ini tak tersalur di media mainstream.
OhMyNews.com sangat berperan mendudukkan kandidat presiden Roh Moo Hyun dengan harapan menang tipis, akhirnya menjadi presiden di pemilu 2002.
Bergerak mengandalkan taktik di online, termasuk menggalang donasi, Roh bukanlah kandidat populer dibanding yang dari kalangan konservatif. Sebagaimana biasanya, media konvensional lebih banyak memberi ruang untuk kandidat konservatif yang sangat mendukung kehadiran militer Amerika Serikat di Korsel. Namun, taktik gerilya pendukung Roh di online, serta liputan terus menerus dan bebas sensor dari para jurnalis warga OhMyNews.com menaikkan dukungan.
Bukan hanya itu, para aktivis pendukung Roh pun kemudian memanfaatkan semua peranti digital, website, online forum, tentu saja juga SMS, untuk menggalang gerakan offline guna meraih dukungan publik. Mereka sadar, jika semua pengguna Internet memilih pun, tak cukup untuk membawa Roh ke kursi presiden. Maka gerakan online ke offline pun dilakukan secara massif. Secara mengejutkan, Roh, sang kandidat yang tak diharapkan penguasa itu, akhirnya menang pemilu dan menjadi presiden.
Boleh dibilang, tanpa media online berbasis jurnalis warga OhMyNews.com, rezim penguasa di Korsel tidak akan berganti.
Kedua, membahas Orange Revolution di Ukraina yang terjadi pada tahun 2004. Joshua Goldstein dalam telaahnya yang berjudul The Role of Digital Networked Technologies in the Ukrainian Orange Revolution yang diterbitkan The Berkman Center for Internet & Society menyodorkan narasi menarik bahwa Revolusi Ukrainia tahun 2004 dimungkinan oleh Internet.
Di musim dingin November 2004, ratusan ribu rakyat Ukraina melakukan demo damai, menuntut pemilu ulang karena pemilu sebelumnya dianggap curang dan mendudukkan Victor Yanukovych, kader rezim presiden sebelumnya, Leonid Kuchma, sebagai presiden baru. Kandidat presiden yang diusung oleh rakyat banyak, Victor Yuschenko, ternyata gagal menjadi presiden. Merasa dicurangi, rakyat menuntut pemilu ulang, dan akhirnya Yuschenko terpilih sebagai presiden baru.
Revolusi itu disebut sebagai Orange Revolution sesuai warna kampanye “My Ukrine” Yuschenko. Meski tidak disebut sebagai Digital Revolution atau Internet Revolution, Michael McFaul mencatatnya sebagai revolusi pertama di dunia yang digalang besar-besaran via online. Hampir semua alat digital digunakan untuk revolusi, mulai dari SMS, media online independen, hingga forum diskusi online. Catatan: pada 2004 social media seperti Facebook dan Twitter belum populer di seluruh dunia.
Banyak faktor yang memicu dan memuluskan revolusi. Tapi peran Internet sangat vital, paling tidak dalam dua hal. Para aktivis membuat media online sendiri. Sangat mudah. Cukup dengan membuat blog. Dengan pendekatan jurnalis warga inilah mereka mencatat dan menyebarkan informasi terkait dengan kecurangan pemilu dari sudut pandang mereka, yang tidak bisa disensor oleh pemerintah. Kedua, para aktivis pro-demokrasi memanfaatkan konvergensi telepon selular dan Internet untuk mengelola aktivitas skala nasional, termasuk memantau hasil pemilu dan mengorganisasikan protes massal.
Tidak berlebihan jika beberapa pengamat waktu itu mengatakan, tanpa teknologi dan Internet, revolusi Ukraina tak akan terjadi.
Selain Ukraina, yang menjadi perhatian The Berkman Center for Internet & Society adalah peran blogger dalam demokrasi di di Iran tahun 2007. John Kelly dan Bruce Etling menulis telaah berjudul “Mapping Iranʼs Online Public: Politics and Culture in the Persian Blogosphere”.  Mereka menggunakan computational social network mapping yang digabung dengan human and automated content analysis untuk menganalisa blogger Iran.
Hasilnya mengejutkan. Semula banyak yang mengira bahwa blogger Iran didominasi oleh anak muda yang menyuarakan kekecewaan mereka kepada rezim. Faktanya, topik yang ditulis blogger Iran sangat bervariasi, mulai dari topik sekular, puisi, hak asasi manusia, kultur pop dan agama. John Kelly dan Bruce Etling membagi blogger Iran dalam empat kategori. Pertama sekuler/reformis yang terdiri dari ekspatriat dan warga Iran yang terlibat dalam dialog politik. Blogger yang biasa bersuara keras terhadap pemerintah, biasanya pakai akun anonim, agar tidak dipenjara. Kedua, konservatif/religius, yang membahas tiga hal: agama, politik dan isu-isu terbaru. Ketiga, puisi dan literatur. Keempat, kombinasi ketiganya.
Penyebaran konten via blog, keterkaitan antara satu blog dengan blog lainnya, dan diskusi intens di komentar-komentar ini ditengarai berpengaruh besar membuka wacana demokrasi bagi rakyat Iran. Pemerintah sendiri tidak terlalu semangat memblokir blog-blog ini sehingga mudah diakses rakyat Iran dalam negeri maupun luar negeri.
Inilah yang kemudian, dugaan saya, menjadi salah satu faktor protes berdarah terhadap pemilu Iran tahun 2007 yang informasinya kemudian menyebar cepat  ke seluruh dunia via Twitter. Dalam beberapa hari, pemilu Iran merajai trending topic (topik yang paling banyak dibicarakan di seluruh dunia) di Twitter. Meski Twitter kemudian diblok oleh rezim Iran, para ekspatriat di Iran masih bisa membanjiri informasi kekerasan pemilu Iran via Twitter sehingga dapat dukungan dari kalangan internasional.
Namun revolusi tak terjadi. Rakyat Iran lebih mencintai presidennya, Mahmoud Ahmadinejad daripada aktivis pro demokrasi yang didukung pihak asing via Twitter di seluruh dunia. Dukungan internasional via Twitter ternyata tidak menyingkirkan penguasa. Tidak ada Twitter Revolution di Iran seperti yang diramalkan para penganut faham cyberutopianism.
Keampuhan social media untuk politik memang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Blog, forum, video sharing (seperti Youtube.com), jejaring social Facebook dan jejaring informasi Twitter sudah biasa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan politik. Keberhasilan Obama menjadi presiden kulit hitam di Amerika Serikat, diakui banyak ahli, berkat strategi kuatnya di social media, baik melalui Facebook, Twitter maupun jejaring sosial lain yang tumbuh di Amerika Serikat. Bahkan kampanye Obama pun disebut Obama 2.0, karena memang sangat mengandalkan teknologi Web 2.0 yang menjadi platform social media.
Jika web 2.0 ampuh di Amerika Serikat, yang memang negara demokrasi, banyak yang bisa memakluminya. Namun bagaimana jika terjadi di negara komunis? Nah, dua tahun lalu, di sebuah negara kecil Eropa Timur, yakni Modova, terjadi unjuk rasa yang murni awalnya digalang via Twitter, memprotes hasil pemilu. Bahkan Evgeny Morozov, penulis buku The Net Dilution, yang menyangsikan faham cyberutopianism pun mengakui, Twitter memegang peran sentral dalam unjuk rasa itu.
Nah, ketika peran sentral jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook di revolusi Tunisia yang meruntuhkan Ben Ali terlihat nyata,  social media pun dianggap sebagai “senjata” menakutkan negara tetangga. Protes rakyat terhadap rezim penguasa di Tunisia akhirnya merembet juga di Mesir dalam tempo cepat dengan senjata yang sama: Twitter dan jejaring  sosial lain. Apakah Mesir akan menjadi negara Revolusi Twitter kedua di dunia? Hingga tulisan ini dibuat, Husni Mubarak masih berusaha keras bertahan di tahta presiden yang sudah ia genggam selama 32 tahun, meski protes yang melibatkan jutaan rakyatnya sudah memakan ratusan korban jiwa dan perang antara pendukung dan penentangnya merebak di mana-mana. Jika Mubarak jatuh, tersingkir oleh revolusi yang dipersenjatai Twitter, maka semakin kuat peluru argumentasi penganut faham Revolusi Twitter.
Apapun perdebatan para ahli, banyak negara sudah melihat Twitter dan jejaring sosial lain berbahaya.  Mesir sempat memblokir Twitter, Facebook, bahkan mematikan Internet untuk meredam protes yang terus mengalir deras hingga awal Februari ini. China, yang sejak awal sudah mengontrol Internetnya, termasuk memblokir berbagai situs yang dianggap memusuhi pemerintah dan menutup akses Twitter bagi 350 juta pengguna Internetnya, mulai memblokir kata kunci “Egypt” di semua search engine yang bisa diakses di China. Setelah revolusi di Tunisia menular di Mesir, pemerintah China menutup semua informasi tentang pergolakan di Negeri Sungai Nil itu agar tidak memicu para aktivis pro demokrasi di China melakukan  yang sama.
Meski demikian, tak sedikit yang mengingatkan agar tidak berlebihan memandang teknologi dan Internet dalam kasus-kasus di atas.
Yang paling ekstrim adalah pandangan Malcolm Gladwell, penulis buku best-seller The Tipping Point, yang membahas mengenai penyebaran pengaruh dan gerakan di masyarakat. Bagi Gladwell, Revolusi Twitter itu ilusi. Revolusi itu gerakan yang berisiko tinggi, termasuk kerusuhan dan kehilangan nyawa. Risiko tinggi itu hanya bisa dihadapi oleh aktivis sosial yang memiliki akar yang kuat ke bawah dan hubungan yang kuat dengan yang lain. Pengguna Twitter, Facebook dan jejaring sosial tidak memiliki dua syarat itu. Hubungan pertemanan di Facebook itu encer. Apalagi di Twitter yang hanya following/follower saja. Mustahil keduanya menjadi elemen penting revolusi. “Sudah berabad-abad terjadi revolusi yang menurunkan rezim penguasa, terjadi di mana-mana, jauh sebelum Facebook dan Twitter ada,” kata Gladwell. Ya, ia menihilkan peran social media dalam revolusi.
Evgeny Morozov, penulis buku The Net Dilution yang menganggap kaum cyberutopianism terlalu berlebihan memandang peran Internet, dengan cara lebih lunak mengatakan, meletakkan teknologi sebagai kunci tunggal itu pendekatan yang dangkal. Untuk kasus Revolusi Orange di Ukraina misalnya, kita tidak bisa menutup mata terhadap tekad pengunjuk rasa yang rela sebelas hari demo di udara dingin membeku di bulan November, dan kucuran ratusan juta US$ yang menggerakkan unjuk rasa. “Perubahan Rezim oleh pesan teks mungkin tampak realistis di dunia maya, tetapi tidak ada diktator yang telah digulingkan di Second Life, dan tak ada pemilu nyata yang dimenangkan di sana,” kata Morozov. Secondlife.com adalah kehidupan maya 3 dimensi yang sangat populer di AS.
Guru besar sosiologi Zeynep Tufekci, yang juga mengamati revolusi di Tunisia, berpendapat bahwa social media berperan penting dalam revolusi, namun hanyalah “nice to have”,  bukan syarat mutlak. Jillian York dari Global Voice Online, juga sepakat: social media memang bermanfaat, tapi tidak diperlukan dalam revolusi.
Beberapa ahli sosial justru melihat, revolusi disebabkan oleh kemiskinan menahun dan tirani di Tunisia, yang mudah dipicu oleh kasus bakar diri Mohamed Bouazizi. Mirip dengan kasus pergantian rezim di Indonesia tahun 1998, yang disebabkan oleh terlalu lamanya Soeharto berkuasa, yang dengan mudah dipicu oleh penembakan mahasiswa Trisakti.
Saya termasuk yang tidak percaya bahwa Twitter pemicu atau faktor terpenting dalam revolusi. Namun, sebagai orang yang berkecimpung dan hidup sehari-hari di jejaring sosial, merasakan denyut nadinya, saya sependapat dengan Mathew Ingram, bahwa mengabaikan peran jejaring sosial dalam revolusi itu juga pendapat yang keliru.
Social media sangat berbeda dengan media komunikasi sebelumnya, termasuk SMS. Pesan pendek, yang disebut-sebut turut berperan dalam revolusi di Filipina, tidak memiliki keterhubungan sosial serumit Twitter, apalagi Facebook.  Di Twitter, penyebaran informasi secepat SMS, namun memiliki kelebihan tertaut dengan informasi lain seperti blog, berita, maupun website penting. Twitter juga memiliki kelebihan Trending Topics yang bisa dilihat bukan hanya oleh pengguna di negaranya, tetapi juga di luar negeri, sehingga bisa menaikkan isu lokal, menjadi nasional, dan kemudian menjadi internasional. Ini terlihat dalam kasus Tunisia. Semula lalulintas Twitter masih membahas Mohamed Bouazizi, lalu berkembang menjadi Sidi Bouzid (tempat unjuk rasa pertama) dan memuncak menjadi Tunisia. Begitu menjadi Tunisia, dunia tahu apa yang terjadi di negara itu, dan para simpatisan global pun bergerak membantu, termasuk dengan menyerang situs-situs pemerintah Tunisia.
Facebook, lebih dari itu. Dalam kasus Tunisia, jejaring sosial terbesar dunia yang kebetulan tidak diblokir saat sosial media lain diblokir, itu dimanfaat untuk berbagi video tentang kekejaman rezim dan kehidupan mewah para pejabat dan istrinya. Segala fitur di Facebook yang amat kaya itu, termasuk wall, email, chat, group, fanpage dan agenda, dimanfaatkan para aktivis pro demokrasi. Di situlah mereka bisa berbagi informasi, membangun agenda, mengorganisasikan gerakan turun ke jalan.
Sebagai jejaring komunikasi dan informasi, Facebook dan Twitter sangat powerful. Inilah senjata untuk melawan rezim. Militer sangat faham, mematikan komunikasi adalah strategi ampuh menekan lawan. Dulu, senjata revolusi adalah jejaring komunikasi fax dan telpon, kini SMS, Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lain.  Tentu, senjata seperti Twitter dan Facebook bukan pemicu revolusi. Tapi mengabaikan peran senjata itu juga keliru.
dimuat di majalah Rolling Stone edisi 71, Maret 2011
Author: "Nukman Luthfie"

Level yang lebih tinggi

Pemimpin yang seperti itu akan mengantarkan perusahaan ke level yang lebih tinggi. Contoh legendaris adalah Dell Corporation, yang berhasil mengumpulkan 1,5 juta lebih konsumennya di Twitter dan menghasilkan sales sampai US$ 6 juta hanya dari Twitter.
be well,
Dwika



**"Nukman Luthfie"
Awal Desember 2010, kancah perpolitikan dunia diguncang oleh Wikileaks. Situs wistleblower itu merilis ratusan ribu kawat diplomatik rahasia Amerika Serikat. Banyak data-data yang mengguncang dunia sehingga merepotkan AS dan negara yang terlibat. Pantas jika pendiri Julian Assange, warga negara Australia, tak berani muncul ke publik dan menjadi incaran interpol. Bahkan situsnya pun menjadi sasaran serangan DDOS yang bisa mematikan server. Bahkan layanan komersial Internet pun enggan berhubungan dengan Wikileaks. Amazon.com misalnya, tidak mau meng-host situs Wikileaks. Domain wikileaks.org pun dimatikan otoritas resmi penyedia domain di AS, sehingga harus ganti-ganti domain ke negara lain. Bahkan, Paypal pun menghentikan sumbangan Wikilieaks yang ditransfer secara online via jejaring alat bayar online itu.
Respon pelaku bisnis itu diduga keras karena tekanan pemerintah AS dan dunia.Bahkan AS sendiri disinyalir melarang tentaranya membaca Wikileaks. Begitu Wikileaks membocorkan kabel diplomatik rahasia AS, negara adijaya itu segera memberikan penjelasan ke negara sekutunya, serta mencari jalan mengantisipasi penyebarannya. Australia misalnya, secara resmi memelisik Julian, yang memang warganya. Perancis, melarang semua layanan server Internetnya dipakai Wikileaks.
Meski dilawan otoritas resmi negara, Wikilieaks didukung banyak individu. Dalam beberapa hari saja, followernya di Twitter mencapai 380 ribu. Mereka secara aktif ikut menyebarkan apapun yang ditulis Wikileaks di Twitter. Juga, dalam beberapa hari, penggemarnya di Facebook menembus angka 600 ribu fans. Angka ini masih terus bergerak naik.
Pemerintah AS dan sekutunya membenci Wikileaks. Perusahaan yang berdomisili di AS tertekan untuk mendukung langkah pemerintah. Namun, ratusan ribu warganya membangkang di online.
Fenomena di atas tidak hanya terjadi di level global. Di level negara kita pun terjadi. Ketika Presiden Yudhoyono berpidato resmi mengenai polemik bentuk monarki Jogjakarta versus Republik, dengan berdiri di podium berlambang Garuda, dan menggunakan iPad, banyak yang berkomentar miring. Esensi pidato presiden yang menjelaskan soal pernyataannya yang menimbulkan gejolak masyarakat Jogja itu luput dari perbincangan publik. Yang menonjol malah soal presiden menggunakan iPad untuk pertama kalinya di depan publik. Misalnya, ada yang tidak rela logo Apple berada di atas lambang Garuda yang tertera di podium. Padahal ya normal saja meletakkan iPad, yang sedang dibaca presiden, di atas podium. Ada pula yang komentar, via Twitter, “Monarki vs Republik, yang menang iPad”.
Presiden memang sedang menjadi sasaran empuk di Twitter. Apapun langkahnya, hampir selalu menuai kritik. Tatkala SBY berkantor di Yogyakarta agar lebih dekat dengan lokasi bencana Merapi, masih ada yang mengkritik “mengapa hanya tiga hari”, “mengapa berada di dalam gedung” dan lainnya. Di Twitter, lebih mudah menemukan kritikan daripada pujian kepada SBY.
Bukan hanya presiden, menteri pun menjadi sasaran kritik pengguna Twitter. Awal Mei 2010, ada pengguna Twitter yang kesal melihat mobil menteri masuk jalur busway di saat yang lain kena macet di jalur biasa. Segera ia memotret mobil itu, dengan plat nomornya, dan disebarkan via Twitter. Dan ternyata itu mobil dinas Menteri Sosial Salim Segaf Aljufrie. Segera saja tweet mobil menteri menerobos jalur bus Trans Jakarta itu menyebarluas via Twitter dan akhirnya terpantau media tradisional dan menjadi berita hangat di berbagai media cetak, radio dan teve. Seorang menteri yang harusnya memberikan contoh, malah melanggar hukum.
Salim Segaf segera bereaksi positif, secara jantang mohon maaf ke publik dan mendatangi Polsek Metro Mampang untuk klarifikasi dan siap ditilang. Respon cepat dan positif secara pribadi juga disampaikan via Twitter resmi Salim Segaf ini disambut baik dan diberitakan di media tradisional, sekaligus disebarkan oleh pengguna Twitter lain.
Coba ganti kata “pemerintah”, “presiden”, dan “menteri” dengan kata “produsen”. Ganti pula kata “warga” dengan konsumen. Produsen tidak lagi bisa mendikte suara konsumen, baik di level global, regional maupun domestik!
Sebuah riset yang dilakukan Edelman tahun 2010 menunjukkan, merek-merek teknologi yang paling banyak diperbincangkan di social media Indonesia adalah Google, Indosat, Nokia, Intel, Telkomsel, AMD, Excelkomindo, Asus, Samsung dan Microsoft. Apakah mereka diperbincangkan secara positif semua. Tentu saja tidak. Coba search kata Indosat, Telkomsel dan Excelkomindo di Twitter, Facebook dan Kaskus, kita akan mendapat gambaran yang sesungguhnya. Pengguna layanan seluler yang kesal karena layanan buruk akan menumpahkan kekesalannya di media sosial. Sekali ditumpahkan, dan dibaca oleh pengguna lain yang juga kesal, akan memperkuat pesan kesal itu karena mereka akan menyebarluaskan pesan itu ke followernya atau temannya.
Semenakutkan itukah media sosial terutama Twitter, Facebook dan blog? Ya. Bagi yang tidak siap. Dan siap atau tidak, itu tergantung pemimpinnya.
Social Media memiliki sisi positif yang jauh lebih banyak ketimbang negatifnya. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh di luar negeri. Di dalam negeri saja bergelimpangan banyak contoh positif. JiFFest (Jakarta International Film Festival) misalnya. Ajang film Indonesia pertama terbesar di Asia Tenggara ini sempat terancam batal karena keterbatasan dana. Padahal JiFFEST membawa film-film berkualitas dari berbagai belahan dunia yang tidak mungkin diputar di bioskop umum sampai sekarang. Sampai 2009, Jiffest telah ditonton oleh lebih dari 350 ribu orang, dan telah memutar hampir 1500 judul film dari 40 negara. JiFFest memperkaya khasanah penonton dengan keragaman gagasan dan budaya dari penjuru dunia. Sayang jika hanya karena masalah dana, JiFFEST bubar tahun ini. Maka dibuatlah gerakan SAVEJiFFEST yang disebarluaskan melalui Twitter dan Facebook. Gerakan masif ini memang tidak menghasilkan banyak dana sumbangan individual. Dalam sebulan “hanya” mengantungi Rp 210 juta, dari Rp 1,5 Miliar yang dibutuhkan. Namun panitia yang terharu dengan semangat gerakan itu memutuskan untuk tetap melaksanakan ajang itu awal Desember 2010, dan gerakan SAVEJiFFEST diperpanjang selamanya.
Contoh lain adalah gerakan sosial yang terbentuk secara otomatis via jejaring sosial untuk membantu korban letusan gunung Merapi, tsunami di Mentawai dan longsor di Wasior. Tanpa komando, banyak yang insisiatif sendiri, mengumpulkan dan menyalurkan dana ke tiga wilayah itu. Gerakan untuk korban Merapi kelihatan menonjol dibanding  Mentawai dan Wasior karena masyarakat lebih mudah menyumbang dan mengirimkan bantuan langsung.
Lebih dari itu, sosial media dimanfaatkan untuk menyebarkan berita perkembangan situasi lapangan, menjadi tempat berbagi informasi cepat antar pengguna media sosial (terutama Twitter). Yang tak kalah pentingnya, social media membangkitkan empati untuk para korban melalui penyebaran emosi.
Amerika Serikat sendiri, yang kini terpojok oleh ulah Wikileaks, sebenarnya menikmati efek positif media sosial terlebih dulu. Di Amerika Serikat, jejaring sosial lewat Internet berperan besar terhadap terpilihnya Obama, warga kulit hitam, sebagai presiden Amerika Serikat. Di negara lain, yakni Iran, Twitter menjadi pemasok informasi ke luar negeri tatkala pemerintah memblokir seluruh akses informasi di saat pemilu. Pemerintah mencoba meredam informasi kekerasan pemilu. Namun akhirnya bocor via Twitter meski akses Internet pun diblokir. Banyak yang menyebut saat itu sebagai Revolusi Twitter Iran.
Di luar negara, para seleb pun melakukan gerakan media sosial yang hebat. Dimotori Alicia dan didukung Keys, Ryan Seacrest, Kim Kardashian, Lady Gaga, Serena Williams, Justin Timberlake serta Elijah Wood, para seleb tersebut “mematikan” akun Twitter dan Facebooknya sampai terkumpul US$ 1 juta untuk disumbangkan ke korban AIDS. Melalui program “Keep a Child Alive” mereka benar-benar membisu, tidak akan update apapun, tidak akan merespon apapun di akun Twitter dan Facebook sampai target pengumpulan dananya tercapai.Dan semua itu kuncinya ada di individu. Bukan di korporat. Bukan di pemerintah.
Ini perubahan luar biasa bagi para pemimpin. Dulu, segalanya berpusat di lembaga, perusahaan, pemerintah. Dan di lembaga selalu ada segelintir orang yang disebut pemimpin, yang menentukan warna dan arah kebijakan. Masyarakat dan konsumen hanya menerima
Dengan budget yang luar biasa besar, “pusat” pemerintahan, lembaga dan perusahaan dapat menyetir suara konsumen. Sudah bukan rahasia lagi, eksekutif dan legislatif, dengan budgetnya yang amat besar, seringkali bertindak di luar keinginan rakyatnya. Demikian pula perusahaan, dengan budget pemasarannya yang banyak, mampu mengarahkan suara konsumennya karena keterbatasan media bagi konsumen.
Maka, di era sebelum Internet, terutama sebelum social media, yang terkenal adalah pendekatan mass marketing, yang menganggap semua orang itu sama, dan hanya dipilah-pilah berdasarkan segmentasi jenis kelamin, daya beli dan lokasi. Jika kita membaca koran Kompas, semua pembaca (tidak peduli pria/wanita, miskin/kaya, juragan/ekskutif/karyawan) melihat iklan yang sama, pesan yang sama. Demikian pula ketika kita membaca portal Detik.com. Pengalaman yang sama kita rasakan ketika melintas di Jalan Sudirman atau jalan-jalan besar Jakarta yang dipenuhi billboard. Kita melihat pesan yang sama, tak peduli kita siapa.
Itulah mass marketing. Semuanya ditembak dengan pesan sama.
Ciri lain mass marketing adalah, iklan itu bicara sendiri, tak mengindahkan suara konsumen. Iklan itu suara perusahaan. Suara merek. Jika ada iklan yang berbicara konsumennya, itu testimonial. Itu pun yang mendukung suara perusahaan/merek.
Di era media sosial, ikan seperti ini sudah kian diabaikan. Perannya terhadap konsumen semakin tipis. Hasil riset Michael Hulme of the Institute for Advanced Studies di Lancaster University menunjukkan, 95% responden tidak percaya iklan. Separoh lebih responden percaya bahwa perusahaan hanya mau menjual produk ke konsumen, dan tak peduli apakah produk itu tepat buat mereka.
Sebaliknya, justru kepercayaan konsumen kepada sesama konsumen, terutama teman di jejaring sosial, kian meningkat. Riset yang dilakukan AC Nielsen 2009 menunjukkan, rekomendasi teman dan kerabat masih menduduki posisi tertinggi sebagai sumber terpercaya. Yang menarik di posisi kedua adalah: opini konsumen yang ditulis di online. Inilah yang muncul di blog, Twitter dan Facebook dan jejaring sosial lain. Peer recommendation kuncinya.
Nah, dengan perubahan yang luar biasa ini, pemimpin yang biasa melakukan mass marketing, memandang semua konsumen itu sama, hanya beda segmentasi, akan tergusur. Saat ini dibutuhkan pemimpin yang mendengarkan suara konsumen secara langsung. Bukan hanya mendengarkan suara biro iklan, konsultan PR dan sejenisnya. Dan suara konsumen itu bergeletakan, telanjang, di social media. Konsumen itu bicara apa saja mengenai produk yang mereka konsumsi di social media. Tinggal merekamnya, membacanya, menghayatinya, dan kemudian bertindak berdasarkan customer insight tersebut.

Pemimpin yang seperti itu akan mengantarkan perusahaan ke level yang lebih tinggi. Contoh legendaris adalah Dell Corporation, yang berhasil mengumpulkan 1,5 juta lebih konsumennya di Twitter dan menghasilkan sales sampai US$ 6 juta hanya dari Twitter.
Sayang, saat ini banyak pemimpin perusahaan, lembaga, dan pemerintah yang jauh dari media social. Masih banyak yang berparadigma mass marketing. Jika tidak segera berubah, mereka akan terlindas zaman.
Note:
tulisan saya ini dimuat di majalah Forum Manajemen Prasetya Mulya Vol XXV no 01, terbit Januari-Februari 2011
Author: "Nukman Luthfie"

Tumpahkan waktu untuk keluarga.

Tumpahkan waktu keluarga sebesar-besarnya untuk keluarga.
be well,
Dwika



Melihat kartun di bawah ini, saya langsung teringat dengan celetukan Lala (6 tahun) beberapa waktu lalu. “Istri ayah Blackberry ya?”
Saya hanya bisa tersenyum kecut mendapat teguran seperti itu. Tak bisa menjawab apapun. Yang ditanyakan Lala sungguh benar. Boleh dibilang, saya tidak bisa lepas dari mobile gadget.  Setiap saat mengecek dan mengupdate Twitter, Facebook, Koprol, Plurk. Membaca dan menjawab  email, baik itu urusan kantor maupun pribadi, lebih sering via smartphone  ketimbang laptop.
twitteraddict
Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah smartphone. Buang hajat, tenteng telpon cerdas juga dan berlama-lama di kamar kecil. Perjalanan menuju kantor tak bisa lepas dari alat komunikasi tersebut. Di kantor, fungsi telponnya saja saja yang saya pakai, fungsi bermedia-sosial diambil-alih oleh laptop. Celakanya, perjalanan pulang ke rumah, bahkan sampai di rumah, saya tidak bisa lepas dari alat satu ini.
Tanpa sadar, saya seperi memiliki anak baru di rumah. Celakanya, anak baru ini jauh lebih saya manjakan dibanding anak yang sesungguhnya. Celetukan Lala bahkan membuktikan bahwa saya lebih sayang Blackberry ketimbang istri.
Saya tahu, ini bukan hanya terjadi pada saya sendiri, tetapi juga banyak orang, yang menggunakan telpon cerdas (apapun jenisnya — iPhone, Blackberry, Nexia, Nokia dan lainnya) dipadukan dengan media sosial, entah Twitter, Facebook, maupun lainnya. Coba perhatikan di mal-mal, dengan mudah kita menemukan orang yang sambil jalan atau naik elevator pun masih beraktivitas dengan telpon cerdasnya.
Tak bisa disangkal, telpon cerdas plus media sosial memang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dalam beberapa kasus, ini bisa menimbulkan keretakan rumah tangga karena kurangnya perhatian terhadap pasangan, atau peluang munculnya teman dekat baru.
Gabungan telepon cerdas dengan media sosial menghadirkan banyak peluang baru untuk bersosialisasi dan berbisnis, yang dapat meningkatkan taraf hidup kita. Namun pada sisi lain, bisa menurunkan taraf hidup berkeluarga. Kemesraan berkomunikasi dengan anak-anak, terutama yang di bawah umur dan belum memegang telpon cerdas, sudah pasti tergerus. Demikian pula dengan pasangan hidup kita di rumah.
Akal sehat mengatakan, batasi penggunaan media sosial di rumah. Tumpahkan waktu keluarga sebesar-besarnya untuk keluarga.
Hmm.. mudah diucapkan.
Sangat menantang untuk dipraktekkan.
Ada gagasan lain teman?
Author: "Nukman Luthfie"

Indahnya sukses

Indahnya jika sukses di dunia usaha. Patut disyukuri jika banyak kawula muda yang berani pindah kuadran menjadi wirausahawan.
be well,
Dwika


Date: Sunday, 30 Jan 2011 02:34
Tak sengaja saya menemukan kolom yang saya tulis di majalah SWA tujuh tahun lalu, edisi 10/XX/13-26 Mei 2004. Saat itu sekitar setahun setelah saya pindah kuadran dari eksekutif Detik.com, membangun usaha sendiri, Virtual Consulting. Saat itu memang banyak eksekutif puncak yang meninggalkan posisi nyamannya untuk memasuki lahan baru yang berisiko.
Tulisan itu saya baca ulang. Dan sepertinya masih layak dibaca saat ini. Saya bagi di blog ini, siapa tahu bermanfaat untuk yang ingin menjadi pengusaha.
menjadi wirausaha, siapa takut?
“Pertaruhan terbesar dalam hidup adalah ketika saya memutuskan menjadi wirausahawan?” Itulah sebaris kalimat yang berkecamuk di benak seorang eksekutif perusahaan ketika memutuskan pindah kuadran menjadi wirausahawan (entrepreneur).
Berlebihan? Tidak. Bertahun-tahun membangun karier di jalur profesional, merintis dari posisi terendah hingga mampu menembus level direksi, membuat sebagian besar kita merasakan nyamannya posisi ini sehingga enggan melepaskannya. Gaji dan tunjangan yang berkecukupan. Jaringan bisnis yang terbangun lumayan luas. Nama besar yang mengikuti jabatan di perusahaan terpandang.
Siapa yang mau kehilangan sederetan kenikmatan langka itu untuk memasuki dunia baru yang penuh tantangan? Dunia yang penuh risiko — bisa meludeskan modal yang kita tabung bertahun-tahun dan memudarkan nama kita yang sebelumnya lumayan terpandang.
Johannes Kotjo dan Judiono Tosin, misalnya, amat mengilat karier dan namanya sebagai eksekutif puncak Grup Salim pada tahun 1980-an. Ketika keluar dari konglomerasi terbesar Indonesia yang masih dikomandoi Om Liem saat itu danmembangun bisnis sendiri, mereka sempat menjadi ikon eksekutif yang berani pindah kuadran. Namun, tak berapa lama nama dan bisnis mereka pudar.
Meski demikian, dunia kewirausahaan sepertinya tak mengenal trauma. Ada saja eksekutif yang berani terjun ke dunia usaha. Ira Koesno, presenter kondang SCTV, seperti ditulis dalam Sajian Utama SWA, berani melangkah ke dunia itu. Begitu pula kawula muda lain yang sebelumnya memiliki posisi lumayan bagus di perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya. Saya sendiri setelah berolah pikir cukup lama akhirnya berani meninggalkan posisi direktur di Agrakom dan Detikcom — portal nomor wahid yang menjadi fenomena bisnis Internet di Indonesia karena mampu menjadi yang terbesar, baik dari sisi pengakses maupun iklan yang berhasil didulang di dunia maya.
Langkah para eksekutif muda (umur 30-40 tahun) memasuki dunia wirausaha saya lihat sebagai langkah unik jika melihat tingkat retensinya. Bagi mereka yang sejak lahir sudah tercetak menjadi wirausahawan karena keturunan, seperti para pedagang, serta pebisnis warung Tegal dan Padang, dunia usaha bukanlah hal yang aneh. Biasanya mereka menerjuni bisnis ini sejak kecil dengan membantu orang tua atau kerabatnya. Di kemudian hari mengambil alih atau mengembangkan bisnis serupa di tempat lain. Tipe ini nyaris tidak memerlukan pendidikan tinggi dan tidak memiliki retensi untuk menjadi wirausahawan.
Agak berbeda kasusnya dengan mereka yang mengecap pendidikan hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari lulusan universitas cenderung menjadi eksekutif perusahaan. Hanya segelintir yang berani langsung membuka usaha sendiri begitu selesai wisuda.
Orang yang terbiasa menjadi eksekutif biasanya memiliki retensi besar untuk membangun usaha mandiri. Mereka yang sukses di jalur ini kebanyakan setia pada jalurnya. Jadi, kalau memang ada segelintir yang berani pindah jalur, ini layak dicatat.
Mereka yang pindah kuadran ini di atas kertas sebenarnya memiliki peluang sukses cukup besar. Alasan utamanya, mereka yang pernah mencicipi posisi eksekutif puncak pasti sudah terlatih jiwa kewirausahaannya di dalam perusahaan (intrapreneurship).
Pekerjaan manajerial memang tergolong penghindar dan penekan risiko (risk aversive and risk minimalist). Namun, semakin tinggi posisi manajerial seseorang, semakin pekat pekerjaan yang berbau wirausaha, yang bersifat menentang risiko (risk taker). Tanggung jawab manajemen puncak untuk membuka pasar baru, membuat produk baru, membuka unit bisnis baru, serta meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan adalah tanggung jawab yang pekat dengan jiwa kewirausahaan. Artinya, jiwa kewirausahaan mereka sudah terasah.
Alasan lain, nama mereka sudah cukup terpandang dan jaringan bisnisnya sudah lumayan luas sesuai dengan kehebatan perusahaan yang dikelolanya. Ini bisa menjadi modal awal yang sangat bagus untuk membangun bisnis baru.
Namun, yang indah di atas kertas memang lain dari di dunia nyata. Dengan wadah usaha baru, jalan untuk menembus proyek dan mendapatkan revenue jadi semakin berat. Memangnya mudah kita mengikuti tender betulan dengan perusahaan seumur jagung yang minim portofolio bisnis? Pengalaman profesional yang jika ditulis bisa berlembar-lembar ternyata tidak bisa begitu saja ditransfer dalam bisnis baru. Wirausahawan baru pun, dalam hal modal, memiliki banyak keterbatasan. Apalagi, perusahaan baru yang dirintis wirausahawan baru biasanya tidak/kurang bankable.
Apa boleh buat, wirausahawan yang baru pindah kuadran akan pusing tujuh keliling ketika cash flow perusahaan kacau-balau. Hal ini kurang dirasakan ketika bekerja sebagai eksekutif karena berbagai resource — termasuk keuangan — disediakan pemilik perusahaan. Itulah tantangan dunia usaha. Seorang wirausahawan bukan hanya pintar memanfaatkan peluang, tetapi juga dituntut untuk piawai memanfaatkan berbagai resource, termasuk keuangan, sumber daya manusia dan teknologi, setelah berhasil menangkap peluang.
Eksekutif yang pindah kuadran menjadi wirausahawan sama saja dengan ikan yang pindah kolam. Ia akan mabuk sesaat. Ia membutuhkan waktu untuk adaptasi. Sebagian akan mati. Saya sendiri sudah menyaksikan beberapa rekan yang pindah kuadran dengan optimisme tinggi, tapi setahun kemudian ambruk. Namun, yang lolos seleksi berpotensi menjadi wirausahawan yang tangguh. Rekan saya, misalnya, kini menjadi wirausahawan yang memiliki tower seluler begitu banyak di Indonesia. Seorang rekan lain mampu membuat usaha ekspor mebel dan mengelola 600-an karyawan.
Mereka yang lolos seleksi dan tumbuh sehat akan mendapatkan pemandangan yang jauh lebih indah. Persis seperti anak-anak kura-kura yang baru menetas di pinggir pantai dan berebut masuk ke laut. Ada yang mati dimakan binatang lain atau manusia. Namun, yang berhasil masuk ke laut akan tumbuh dan berkelana, menyaksikan indahnya lautan luas, warna-warni terumbu karang, indahnya tarian beraneka ragam ikan, dan kemudian beranak-pinak. Itulah indahnya jika sukses di dunia usaha. Patut disyukuri jika banyak kawula muda yang berani pindah kuadran menjadi wirausahawan.
Menjadi wirausaha, siapa takut?
Author: "Nukman Luthfie"

Filosofi WOW

Filosofi WOW: membuat pelanggan terpana atas betapa cepatnya layanan kita karena ekspektasi mereka lebih lama.
be well,
Dwika


Kalau Bisa Lambat, Kenapa Harus Cepat?

**www.sudutpandang.com
“Ada ukuran yang lebih kecil?” tanya saya ke  pelayan toko yang berseragam warna coklat, karena kue yang dipajang di depan memang terlalu besar.
“Ada pak, ukuran 20 cm x 20 cm,” jawabnya. Saya mengangguk setuju. “Kami harus membuatnya lebih dulu, apakah bapak bersedia sekitar 15 menit?”
Seperempat jam menunggu pembuatan kue ulang tahun tak terlalu lama buat saya. Saya setuju. Nah, sambil menunggu saya pesan secangkir kopi tubruk. Sekitar tiga menit kemudian kopi sudah tersaji di meja. Baru mau meminum kopinya, nama saya dipanggil. Kue ulang tahun sudah jadi! Hanya lima menit dari 15 menit yang dijanjikan! Wow cepat sekali. Mengapa terasa cepat? Karena di benak saya dijanjikan 15 menit, dan ternyata kuenya jadi tiga kali lebih cepat.
Hal yang serupa akan kita temukan di perusahaan-perusahaan bagus lain. Jika biasa mengirim barang dengan JNE misalnya, pengalaman yang sama akan kita rasakan. Jika alamat yang dituju kurang meyakinkan, petugas JNE selalu mengatakan “Barang akan sampai dalam tempo 4-5 hari”. Nanyatanya? Barang sampai ke alamat hanya dalam dua hari.

Di perusahaan online global sekelas Zappos, ini disebut sebagai filosofi WOW. Zappos kini menjadi penjual sepatu via online terbesar dunia dengan 150 ribuan kolesksi sepatu dan angka penjualan menembus US$ 1 miliar alias Rp 900 miliar, antara lain berkat filosofi membuat pembelinya terpana. Di situsnya, Zappos menyatakan bahwa sepatu yang dibeli akan dikirim dalam tempo 4-5 hari. Namun, sebagian besar pembeli menerimanya dalam tempo hanya sehari!
Ini ilmu “memainkan” harapan pembeli/pelanggan. Jangan janjikan pembeli sesuatu yang tak bisa kita penuhi sebagai penjual. Janjikan waktu maksimal yang kita sanggupi ke pelanggan/pembeli.
Memang, di tengah kompetisi bisnis yang keras, kebanyakan pelaku bisnis menjanjikan pelayanan secepatnya agar pelanggan tidak lari, atau untuk mendapatkan pelanggan baru. Ini yang sering saya temui di usaha kecil menengah. Mereka menjanjikan produknya akan dibuat dalam tempo sehari, dan memang betul dalam tempo 24 jam produk tersebut selesai. Bagus. Ya bagus. Tapi dalam persepsi pelanggan, layanan mereka hanya dalam kategori “memenuhi harapan pelanggan”.
Namun, kadang kita menemui penjual yang mangkir jadwal.  Saya pernah membuat jaket kulit di sebuah tempat, dijanjikan tiga hari selesai. Hari ketiga mereka menelpon, minta maaf karena salah ukuran dan harus membuat ulang dan minta tambahan waktu tiga hari lagi. Buat saya sebagai pelanggan, alasan mungkin bisa diterima, tapi tak menutupi rasa kecewa. Ini kategorinya “tidak memenuhi harapan pelanggan”.
“Tidak memenuhi harapan pelanggan” itu salah satu pembunuh bisnis. “Haram” hukumnya dijalankan oleh perusahaan mana pun. Sedangkan “memenuhi harapan pelanggan” itu kelasnya biasa saja. Sudah sewajarnya begitu. Yang lebih tinggi kastanya adalah filosofi WOW: membuat pelanggan terpana atas betapa cepatnya layanan kita karena ekspektasi mereka lebih lama.
Caranya? Latih terus seberapa lambat kita bisa memenuhi harapan pelanggan yang tidak membuat pelanggan itu enggan beli. Contoh, 15 menit menunggu kue dibuat khusus itu waktu yang bisa diterima. Bahkan tergolong cepat menurut saya. Nah, janjikan waktu 15 menit, bukan 30 menit misalnya. Yang jelas, jangan janjikan lima menit, meski kita bisa membuatnya secepat itu.
Inilah prinsip Under Promise Over Deliver.
Terjemahan bebasnya: “Kalau bisa lambat, kenapa harus cepat?
Tapi  terjemahan bebas ini hanya berlaku untuk konteks di atas ya