Search This Blog

Monday, June 6, 2011

Keseimbangan hidup

Keseimbangan hidup ini mencakup 4 dimensi, yaitu fisik, mental, sosial, serta spiritual. Disini mereka senantiasa dibekali mulai dengan kesempatan, serta dengan tips dan pentingnya untuk mengelola dimen-dimensi ini dengan lebih baik, sejak dini.
be well,
Dwika





PENDIDIKAN SELF REGULATION SEJAK DINI

Salam Antusias Pak Anthony,
Meskipun saya seorang guru, saya senang baca rubrik Bapak yang ternyata bisa diaplikasikan bukan hanya di pekerjaan, tapi juga dalam hal mendidik siswa. Saat ini, saya menghadapi dilema bukan hanya mengajarkan bidang studi tetapi membuat anak bisa mengelola diri mereka serta stres akademik yang mereka hadapi. Saya merasa sangat kasihan dengan mereka. Saya rasa, tingkat stres mereka tidak ada bedanya dengan stres orang-orang kantoran lho. Bayangkan, dengan beban akademik yang begitu tinggi dan kurikulum yang padat, mereka dituntut menyelesaikan sesuai dengan waktu. PR yang bertumpuk, ulangan rutin, harus menguasai berbagai bidang studi yang beda, tahu berbagai bahasa (Inggris, Mandarin), plus kegiatan ekstra kurikuler yang padat. Saya sendiri kadang merasa bersalah karena membuat mereka jadi manusia yang hanya terfokus pada akademik. Tatkala menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, banyak yang  mudah frustrasi, bingung dan merasa sendirian. Saya tau karena sering dengar curhatan mereka. Entah itu dari mereka sendiri, maupun dari orang tuanya. Nah Pak, sebenarnya apa yang bisa saya lakukan untuk memperlengkapi mereka dengan kemampuan pengelolaan diri yang lebih baik, selain hanya soal akademik?
Juliana – Jakarta
Jawab:
Ibu Juliana, terima kasih atas atensi yang Anda berikan pada tulisan-tulisan pengembangan diri kami yang dimuat di sini. Saat saya mendengar cerita yang Ibu jabarkan, saya pun jadi teringat kisah seorang jenius yang bernama William James Sidis. Ia adalah anak yang jelas sekali tingkat kejeniusannya. Bayangkan! IQ-nya saja diperkirakan sekitar lebih dari 250 (angka yang sangat fantastis!). Ia dianggap sebagai salah satu manusia tercerdas di muka bumi ini yang pernah hidup. Ia pun merupakan mahasiswa termuda di Harvard University dengan usia 11 tahun. William sangat pandai dalam berbagai mata pelajaran bahkan pernah menjadi pengajar mata kuliah yang cukup rumit, seperti geometri dan trigonometri. Namun dalam pergaulan, ia sering diasingkan oleh rekan sekampus, tidak pernah memiliki pasangan, dan mengasingkan dirinya hingga ia meninggal di usia 46 tahun. Tragis, bukan?
Memang betul, saat ini salah isu yang paling hangat di kalangan pendidik adalah memperlengkapi para peserta didiknya dengan kemampuan menghadapi tantangan dunia yang semakin keras. Terlebih adalah menghadapi padatnya jadwal sekolah, pekerjaan rumah, tugas-tugas yang banyak, harapan dari keluarga yang begitu tinggi, tekanan dari teman-teman dan lain-lain. Dengan tekanan-tekanan seperti itu tidaklah mengherankan bila mereka perlu diajarkan bagaimana untuk mengelola diri yang lebih baik, termasuk mengendalikan level stres mereka.
Peserta didik yang notabene adalah individu yang baru berkembang dan masih butuh arahan dan bimbingan, seringkali merasa kesepian dan tidak mendapatkan bimbingan. Saya setuju bahwa sifat pemicu stres mereka memang berbeda dengan orang yang bekerja. Tapi mereka tetaplah manusia-manusia yang bisa mengalami stres! Inilah yang terkadang tidak dipahami, sehingga tak jarang kalau di lingkungan orangtua muncul komentar begini, “Kok tugasnya belajar aja bisa stres!”
Akibat buruk dari tuntutan dan level stres tinggi, yang tidak dibarengi dengan pembekelan yang memadai adalah munculnya keputusan dan tindakan yang salah pada diri anak-anak kita. Pelarian dari masalah dengan cara instan (mulai dari narkoba sampai usaha bunuh diri) serta pergaulan yang salah, adalah salah satu simtom yang kita lihat. Sebenarnya kta perlu merasa kasihan.  Dari berbagai program pengembangan diri yang kita adakan bagi kaum muda, kita mengerti betapa meraka membutuhkan teman. Dibalik tuntutan akadamik yang tinggi, yang kita saksikan adalah pribadi-pribadi yang terasing: yang merasa sendirian karena jarang dibimbing, yang tidak tahu harus mengadu pada siapa, yang bingung untuk membuat pilihan, yang seringkali dilabel tanpa pernah dipahami.
Concern Ibu Juliana juga merupakan concern saya. Respon-respon mereka yang emosional dan terkesan tidak dipikirkan dengan matang, perlu difasilitasi. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membantu mereka dalam hal mengelola diri (self regulation) yang lebih positif:
Mengenali Tanda-tanda Stress. Saat ini, pelajaran stres management sudah mulai populer serta perlu dibekalkan pada anak didik kita. Disini, peserta didik diajari mengenali tanda-tanda stress pada diri mereka. Dimulai dari faktor pemicu stresnya hingga langkah-langkah preventif apakah yang bisa dilakukan sebelum efek stres-nya menjadi tak terkendali. Dimulai dari tanda-tanda fisik yang lebih mudah dikenali. Dan satu hal yang paling penting yang perlu mereka ketahui adalah level stres bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Nah, apa saja tanda-tanda penting ketika mereka sedang stres? Mereka pun dipandu untuk menjadi lebih peka. Karena kalau bisa mengenali, maka mereka akan lebih bisa mengendalikannya.
Rileksasi. Salah satu langkah sederhana setelah mengenali kondisi yang stres adalah mengajarkan kemampuan untuk rilaksasi. Ketika rileks, mereka bisa lebih tenang memikirkan semua pilihan yang mungkin untuk bertindak. Penelitian menunjukkan, remaja yang lebih tenang pilihannya jauh lebih baik daripada yang kondisinya sering panik. Dr Herbert Benson dari Harvard University dalam bukunya The Relaxation Response, menjelaskan bagaimana tubuh kita merespons stres secara otomatis. Ia pun menyarankan meditasi pernapasan sederhana dengan mengulangi kata per kata yang menenangkan. Atau, bisa pula dibantu dengan CD-CD relaksasi. Saat relaks, tubuh dan pikiran menjadi santai, ketegangan menurun dan pikiran menjadi lebih terbuka terhadap berbagi pilihan serta lebh sadar akan konsekuensi jangka panjang.
Positif Self Talk. Salah satu self regulation lainnya yang penting adalah melakukan Self Talk yang positif. Dengan berbicara dengan diri sendiri berarti mereka memanfaatkan kekuatan pikiran. Berarti menggunakan pikiran untuk membantu diri sendiri, dan hal ini berarti memberikan ‘energi’ bagi diri sendiri untuk bertindak secara positif. Gunakan kata-kata seperti “saya bisa”, “tidak ada seorangpun yang dapat mengecilkan saya,kecuali saya sendiri”, atau “saya akan sanggup melewatinya”.
Gaya Hidup Yang Seimbang. Akhirnya, keseimbangan pun penting untuk diajarkan. Prinsip keseimbangan hidup ini mencakup 4 dimensi, yaitu fisik, mental, sosial, serta spiritual. Disini mereka senantiasa dibekali mulai dengan kesempatan, serta dengan tips dan pentingnya untuk mengelola dimen-dimensi ini dengan lebih baik, sejak dini. Dengan terus merawat dan menyeimbangkan keempat dimensi tersebut maka mereka diyakinkan berbagai tekanan hidup mereka, akan bisa diatasi lebih baik.
Kiranya dengan beberapa catatan diatas, Ibu Juliana bersama dengan para guru dan orang tua yang peduli, kita bisa menyiapkan masa depan generasi kita yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment