Search This Blog

Friday, June 10, 2011

Memilah kebutuhan di antara keinginan

Pandailah  memilah  kebutuhan  di  antara  keinginan-keinginan  Anda.  Berpikirlah  sebelum  “melingkar”  lebih  dahulu  sebelum  membuat  keputusan. 
be well,
Dwika


Perbedaan Kebutuhan dengan Keinginan

by hardinalz

Membedakan Kebutuhan Dengan KeinginanAlkisah, Edi – sebut saja begitu namanya – lagi gandrung dengan sebuah laptop. Ia yang kini mahasiswa semester  tiga  jurusan  komputer  benar-benar  membutuhkan  komputer  jinjing.  Dengannya  Edi  dapat mengerjakan tugas-tugas kuliah di mana saja dengan mudah. Di kampus ia bisa browsing di mana saja karena ada fasilitas Wi-Fi gratisan untuk akses internet. Daripada harus ke warnet atau akses dari rumah – selain waktunya kurang  fleksibel,  ia  juga harus keluar uang –  lebih baik  ia membeli  sebuah  laptop. Lihat-lihat harganya ternyata sekarang tidak terlalu mahal. Sebuah laptop saat ini, sudah bisa dibeli dengan harga 5 jutaan rupiah. Dengan menyisihkan uang saku dan minta bantuan ortu, beberapa bulan saja laptop sudah ada di  tangannya.
Di pameran baru-baru  ini,  ia sudah mendapatkan  laptop  idamannya, bahkan  ia sudah melihat-lihat dan mengamati speknya (spesifikasi) di situs pembuat vendor perangkat tersebut. Di salah satu “toko online” ia lihat  harganya  sedikit miring.  Saking  niatnya memboyong  laptop  ke  rumah,  Edi  tak  segan mampir  ke puluhan website untuk membaca  review produknya di berbagai media. Bahkan  ia  sudah mendowload gambarnya untuk dijadikan wallpaper PC di  rumahnya.
Serasa keinginannya tak terbendung. Hampir di setiap kesempatan ia mengamati harga laptop idamannya yang belum beranjak  turun.  Ia  coba-coba  sedikit membandingkannya dengan merek  lain  yang punya spesifikasi mirip. Tapi  tetap,  ia  lebih  suka  laptop yang  sudah diidamkannya.Singkat cerita, tibalah saat untuk membeli laptop karena dana yang dibutuhkan sudah di tangan. Pergi ke sentra komputer, keluar masuk  toko untuk  sekadar membandingkan harga yang  sedikit beda  sungguh menyenangkan  Edi.  Akhirnya  ia memutuskan  untuk membeli  laptop  buruannya  di  sebuah  toko  yang menawarkan  sedikit kelebihan di  sisi pelayanan purna  jual.
Minggu-minggu pertama  setelah membeli  laptop,  ia bawa komputer  jinjing  itu ke mana  saja –  tempat kuliah atau ke  tempat kos  temannya. Alasannya untuk mengerjakan  tugas kuliah. Tetapi di hari-hari berikutnya, Edi mulai malas menggunakan laptop-nya. Waktu istirahat di kampus, ia tak lagi membuka laptop-nya untuk browsing.  Ia merasa bosan, karena browsing ke sana kemari tidak memberi banyak manfaat.  Ia tak  lagi membawa  laptop ke kampus. Bahkan ketika ada rencana untuk mengerjakan tugas kelompok di tempat kos teman,  ia malas membawa laptop-nya. Toh tugas itu bisa dikerjakan bersama di PC desktop milik temannya, begitu  ia beralasan.
Ia  mulai  menyadari  sebenarnya  laptop  yang  dulu  ia  impi-impikan  itu  ternyata  tidak  ia  butuhkan. “Kebutuhan” yang  ia pikirkan kala  itu  ternyata hanya  sebuah keinginan,  tidak  lebih. Kini  laptop  itu  teronggok di meja belajarnya dan  jarang  sekali  ia  sentuh.
Kisah  ini mewakili  sebuah  gambaran  bahwa  kebutuhan  akan  sebuah  barang  belum  tentu  betul-betul merupakan  sebuah  kebutuhan  yang  sesungguhnya.  Tetapi “kebutuhan”  tersebut  hanyalah  sebuah keinginan. Coba renungkan, pernahkah Anda merasa membutuhkan suatu model ponsel. Anda sangat mengidamkannya. Anda membutuhkannya karena fitur kamera yang Anda bayangkan bisa Anda gunakan untuk  berfoto  diri,  supaya  hasil  foto  itu  bisa  Anda  upload  ke  FB  Anda.  Anda  juga  merasa membutuhkannya karena ada fitur push email sehingga Anda bisa download email kapan saja. Atau mungkin Anda membutuhkannya karena terdapat fitur radio FM, dan mp3 player-nya, jadi Anda dapat menghibur diri di mana  saja.
Tetapi dasar lacur, setelah ponsel multimedia itu di tangan Anda, Anda makin jarang memanfaatkan fitur yang  sebelumnya Anda merasa butuhkan. Hari-hari berikutnya, Anda  tak  lagi memanfaatkan  fitur  itu. Padahal, karena  fitur  tersebut, Anda  rela mengeluarkan uang  lebih.
Jadi,  pandai-pandailah  memilah  kebutuhan  di  antara  keinginan-keinginan  Anda.  Orang  bijak  bilang, berpikirlah  sebelum  “melingkar”  lebih  dahulu  sebelum  membuat  keputusan.  Mungkin  Anda  tidak mengorbankan banyak waktu untuk sekadar merenungkannya sejenak terlebih dahulu daripada keputusan yang Anda buat  ternyata merugikan dan meluapkan nafsu yang hanya bernama keinginan.
Dikutip dari Tabloid PCplus no 280  tahun VII artikel  sharing oleh  Julianto  (juli@infokomputer .com) dirubah oleh Dicky

No comments:

Post a Comment