Search This Blog

Sunday, July 17, 2011

Harga emas naik lebih tinggi daripada inflasi

Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukkan bahwa bila inflasi mencapai 10%, maka emas akan naik 13%. Bila inflasi 20 persen, maka emas akan naik 30%. Tetapi bila inflasi 100%, maka emas Anda akan naik 200%. Inilah kenapa Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam bentuk emas.
be well,
Dwika


Emas sebagai penangkal inflasi

Oleh: Safir Senduk
Banyak orang percaya emas adalah produk investasi yang bisa menangkal inflasi. Dan memang, sejarah membuktikan emas akan diborong orang apabila terjadi kepanikan yang bisa membahayakan ekonomi negara, seperti inflasi tinggi, krisis keuangan, atau perang.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi bisa menggerogoti uang Anda. Kalau asumsi inflasi 15% per tahun, maka harga barang & jasa yang sekarang bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau 2 kali lipat pada tahun ke-6, dan Rp 15,3 juta atau 3 kali lipat pada tahun ke-9, dan seterusnya.
Menurut keparahannya, ada tiga tipe inflasi:
  1. Inflasi Moderat, yaitu apabila laju inflasi hanya berada di bawah dua digit per tahun (di bawah 10%)
  2. Inflasi Ganas, yaitu apabila laju inflasi berada pada dua digit per tahun (10% – 99%)
  3. Inflasi Hiper, yaitu apabila laju inflasi berada pada tiga digit per tahun (100% atau lebih)
Tulisan ini akan membahas tentang apa yang bisa Anda lakukan agar bisa menghadapi inflasi. Bila Anda bukan termasuk pengambil keputusan di pemerintahan, Anda mungkin tidak bisa ikut menurunkan tingkat inflasi. Yang bisa Anda lakukan sebagai individu, hanyalah bagaimana agar Anda bisa mengambil ‘keuntungan’ dari terjadinya inflasi tersebut. Bagaimana caranya? Saya menyarankan agar Anda melakukan investasi pada instrumen yang akan naik pesat apabila terjadi inflasi tinggi. Apa itu? Emas. Ketika Cina diserbu Jepang pada masa Perang Dunia, rakyat Cina panik dan mereka berbondong-bondong menyerbu emas sehingga harga emas naik luar biasa. Di Indonesia, pada saat terjadi rush kebutuhan pokok di pasar swalayan pada 8 Januari 1998 (pagi hari sebelum pengumuman APBN oleh Presiden Suharto di hadapan DPR), harga emas juga langsung melonjak. Dalam selang satu dua hari saja, harga emas langsung naik kurang lebih sebanyak 1,5 kali. Dan harga tersebut, walaupun secara fluktuatif, cenderung naik terus waktu itu –sebelum akhirnya turun lagi ketika inflasi kembali berada di bawah dua digit.
Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukkan bahwa bila inflasi mencapai 10%, maka emas akan naik 13%. Bila inflasi 20 persen, maka emas akan naik 30%. Tetapi bila inflasi 100%, maka emas Anda akan naik 200%. Inilah kenapa Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam bentuk emas. Ini karena emas dipercaya sebagai investasi penangkal inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin baik kenaikan nilai emas yang Anda miliki. Tetapi, patut dicatat bahwa harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah, bahkan cenderung sedikit menurun apabila laju inflasi di bawah dua digit. Jadi, emas hanya akan bagus bila terjadi inflasi moderat (dua digit), dan akan lebih bagus lagi bila terjadi inflasi hiper (tiga digit).
Investasi emas
Emas tersedia dalam beberapa pilihan. Beberapa diantaranya yang paling dikenal adalah emas perhiasan dan emas batangan. Satu yang juga mulai populer di Indonesia adalah koin emas.
Bila Anda berinvestasi emas untuk jangka pendek, biasanya akan sulit mendapatkan keuntungan kalau bentuknya emas perhiasan. Ini karena kalau Anda datang ke toko dan membeli emas perhiasan, Anda harus membayar harga emas plus ongkos pembuatannya. Nah, ketika suatu saat Anda menjualnya kembali, maka toko tidak akan mau membayar ongkos pembuatan dari perhiasan emas tersebut. Ia hanya akan membayar harga emasnya saja. Malah, masih untung sebetulnya kalau toko mau menerima emas perhiasan Anda. Beberapa toko kadang-kadang menolak penjualan emas perhiasan dari masyarakat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah karena mereka takut kalau-kalau emas perhiasan itu tidak laku lagi apabila dijual. Jadi, kalaupun mereka membelinya lagi, mereka harus melebur emas tersebut.
Karena itu, investasi dalam bentuk emas perhiasan lebih untung kalau disimpan untuk jangka panjang. Karena biasanya harga emas Anda sudah naik jauh dibanding ketika Anda membelinya.
Emas perhiasan tersedia dalam berbagai macam karat, di antaranya 18 – 24 karat. Untuk investasi, alangkah baiknya bila Anda memilih emas perhiasan senilai 24 karat. Ini karena kemungkinan emas perhiasan Anda bisa dijual kembali jauh lebih besar dibanding emas perhiasan yang 18 karat. Sekali lagi, investasi dalam bentuk emas perhiasan biasanya baru akan memberikan hasil yang menguntungkan dalam jangka panjang, bukan jangka pendek.
Investasi emas yang menurut saya cukup baik adalah investasi emas dalam bentuk batangan (emas logam mulia). Emas ini cukup baik bila dijadikan investasi, dan siapapun tak menyangkal bahwa emas batangan -berbeda dengan emas perhiasan- mudah untuk dijual kembali. Selain itu, emas batangan tidak meminta ongkos pembuatan seperti halnya emas perhiasan. Karena itu, bila Anda ingin melakukan investasi emas, maka tak ada salahnya Anda mempertimbangkan investasi dalam bentuk emas batangan.
Sumber: Perencana keuangan
Tulisan ini termasuk tulisan Safir Senduk yang berumur cukup lama. Sebagian aku delete karena sudah tidak sesuai lagi. Namun poin pentingnya adalah emas bisa digunakan untuk menangkal inflasi. Daripada capek-capek menabung lalu nilainya makin kecil karena inflasi, lebih baik dibelikan emas.
Aku sendiri juga membeli emas baik batangan maupun koin (dinar). Pertimbangannya sama, untuk menanggulangi inflasi sehingga tabungan tidak makin menurun nilainya.
Untuk emas batangan, aku beli di toko emas di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Di toko emas ini kita malah bisa beli secara mencicil, dalam artian kita beli misalnya 1 gram bulan ini dengan harga 1 gram emas (minus biaya pembuatan), lalu 1 gram bulan depan, namun fisiknya tidak diambil dulu. Emas batangan, makin kecil jumlah gram-nya akan makin tinggi biaya pembuatannya, sehingga lebih baik beli yang gram-nya besar. Namun karena emas batangan yang gram-nya besar itu mahal :-D maka bisa dengan dicicil seperti cara di atas.
Ketika sudah terkumpul sebesar misalnya 25 gram, baru diambil fisiknya, tinggal menambah biaya cetak untuk emas batangan 25 gram. Bisa pula mengambil misalnya 5 batang 5 gram-an, dengan menambah biaya pembuatan juga untuk 25 gram (bukan 5 x 5 gram).
Untuk koin dinar, aku beli di gerai dinar dan di koperasi dinarku, karena kita bisa juga beli dinar dengan mencicil. Maklum, 1 dinar sekarang harganya sekitar Rp 1,7 juta… teler kalau harus beli segitu. Di gerai dinar, dengan rekening m-dinarnya kita bisa setor minimal senilai 0,1 dinar dengan setoran awal sebesar 0,25 dinar. Sedangkan di koperasi dinarku, dengan rekening dinarku-nya kita malah bisa setor sebesar 1 sen dinar :-D ini luar biasa sekali.
Jadi walaupun dana sedikit, tetap bisa investasi emas.

No comments:

Post a Comment